Selasa, 28 Desember 2010

Diposting oleh sylvanickeummah di 00.02 0 komentar
Gambaran Perilaku Siswa Pengguna Narkoba
Sering bolos
Sering terlambat masuk sekolah (lambat bangun)
Sering masuk kelas setelah jam istirahat
Sering mengantuk dan tertidur di kelas
Sering lupa jadwal ulangan
Lupa membawa buku pelajaran
Prestasi sekolah menurun (terlihat setelah 6 bulan pemakaian)
Penampilan dan kerapihan berpakaian kacau
Kadang bicara cadel atau gagap (sebelumnya tidak)
Ada perubahan pola tidur
Mata merah dan hidung berair
Sering tidak membayar uang sekolah

Pengedar Narkoba di lingkungan Sekolah:
Siswa
Juru parkir
Alumni
Satpam sekolah
Tukang rokok
Pedagang makanan dan minuman di sekitar sekolah

Tempat transaksi peredaran Narkoba:

Halaman parkir sekolah
Warung di sekitar sekolah
Kantin sekolah
Toilet/WC sekolah
Rumah di sekitar sekolah, dan
Mobil pengedar Narkoba

Kondisi yg mendorong penyalahgunaan Narkoba:

Langsung
Lingkungan sekolah yg rawan (dekat pusat perbelanjaan, terminal, lingkungan kumuh, dsb)
Kurangnya kontrol dari sekolah (baik di dalam maupun diluar sekolah, pada jam belajar maupun diluar jam belajar)
Banyaknya warung/kios di sekitar sekolah yg dpt dijadikan transaksi.
Penerapan sanksi yg kurang konsekuen thd pelanggaran peraturan sekolah.
Lokasi sekolah yg memungkinkan dijadikannya tempat nongkrong pengguna Narkoba.
Kurangnya pemahaman/pengetahuan tentang bahaya Narkoba baik siswa, guru, petugas sekolah dan orang tua siswa.

Tidak Langsung
Peraturan sekolah/tata tertib sekolah terlalu keras atau terlalu lunak.
Komunikasi yg kurang efektif antara guru, kepala sekolah, siswa dan orang tua siswa
Kegiatan sekolah yg terlalu padat atau kegiatan sekolah kurang memenuhi minat siswa
Penanganan yg kurang optimal terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar
Kurangnya keterlibatan orang tua siswa yg anaknya tidak terlibat dalam masalah penyalahgunaan Narkoba
Peranan BP3/Komite Sekolah kurang difungsikan secara optimal
Kurang kerjasama antara sekolah dengan lingkungan masyarakat sekitar, Pemda ataupun Kepolisian.


Penanggulangan Kasus Penyalahgunaan Narkoba di sekolah

Siswa yg terkena kasus dimintai keterangan, diperiksa dan dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan mengenai keterlibatannya dengan Narkoba. Pemeriksaan itu hendaknya dpt mengklarifikasi tingkat keterlibatan siswa, apakah pada taraf penyalahgunaan atau taraf penjualan.
Orang tua siswa yg bersangkutan diberitahu dan dipanggil ke sekolah.
Siswa yg bersangkutan dikirim ke Dokter yg ditunjuk sekolah untuk menjalani pemeriksaan urine atas biaya orang tua siswa yg bersangkutan.
Apabila terbukti menyalahgunakan Narkoba, maka siswa tsb diharuskan membuat perjanjian untuk berobat dan mengikuti terapi penyembuhan. Apabila siswa tsb tidak bersedia membuat perjanjian atau melanggar perjanjian, maka siswa tsb diminta untuk mengundurkan diri dari sekolah.
Untuk mencapai tujuan butir 4, maka selama siswa menjalani perawatan/pengobatan, sedapat mungkin siswa tsb tetap hadir di sekolah dgn pengawasan ketat dari orang tua siswa atau anggota keluarganya yg mewakili orang tua siswa dan dibantu guru yg ditunjuk oleh Kepsek.
Apabila diperlukan perawatan yg lebih intensif di rumah orang tua siswa atau di pusat-pusat rehabilitasi ketergantungan obat, maka siswa tsb diberi kesempatan untuk sementara waktu tidak usah hadir di sekolah, tapi sedapat mungkin siswa tsb tetap diminta untuk melaksanakan kegiatan belajarnya di rumah atau pusat rehabilitasi dan diberi kesempatan untuk mengikuti ulangan sekolah.
Selama siswa tidak mengikuti pelajaran di sekolah, sedapat mungkin sekolah menyediakan guru pembimbing untuk mendampingi siswa belajar di rumah atau di pusat rehabilitasi atas biaya orang tua siswa.
Apabila terlihat indikasi kuat bahwa seorang siswa selain menyalahgunakan Narkoba juga mengedarkan atau menjual Narkoba, maka kasusnya dapat diteruskan ke pihak yang berwajib dan diselesaikan sesuai hukum yang berlaku.
Apabila dari pemeriksaan Polisi dan Pengadilan dinyatakan bahwa siswa tsb terlibat dalam pengedaran dan penjualan Narkoba, maka Sekolah dapat memberikan sanksi mengeluarkan siswa itu dari sekolah.
Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba di sekolah
Penanggulangan penyalahgunaan Narkoba disekolah mencakup upaya pencegahan, penanganan kasus, dan pemberdayaan pendidikan agar memiliki kemampuan cegah-tangkal terhadap bahaya penyalahgunaan Narkoba.

TUJUAN : TERCIPTANYA MASYARAKAT
YG BEBAS DARI PENYALAHGUNAAN NARKOBA


Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba di sekolah
TUJUAN KHUSUS:
Terbebasnya sekolah dari penyalahgunaan Narkoba
membantu siswa mengembangkan ketahanan thd bahaya penyalahgunaan Narkoba (menjalankan pola hidup sehat) dan memperkuat lembaga pendidikan.
Menurunkan jumlah kasus penyalahgunaan Narkoba dan putus sekolah karena Narkoba.

Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba di sekolah
dapat dicapai melalui:
Sosialisasi tentang bahaya penyalahgunaan Narkoba.
Pengembangan budaya hidup sehat (salah satunya melalui UKS)
Integrasi upaya pendidikan pencegahan penyalahgunaan Narkoba melalui kurikulum yang relevan, misalnya melalui IPA, IPS, Agama, dan sebagainya.
Mengembangkan berbagai bentuk kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yg melibatkan peran aktif siswa sendiri, dalam rangka pencegahan penyalahgunaan Narkoba.
Pengembangan kerjasama dengan seluruh masyarakat, terutama orang tua siswa dan guru untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif.
Melaksanakan kampanye melawan Narkoba secara besar-besaran di lingkungan pendidikan. Sasaran : para pembuat kebijakan, para pendidik, para peserta didik. Untuk itu, sarana advokasi perlu dikembangkan secara tepat sasaran dan tepat guna.

Program Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba
Menggalang ketahanan agar sekolah bebas dari praktek jual-beli Narkoba.
diperlukan dukungan dari berbagai sektor, baik masyarakat sekolah maupun masyarakat di sekitar sekolah serta aparat penegak hukum yg tegas.
dalam menjalankan proses belajar-mengajar yg berhasil guna diperlukan sarana pendukung, seperti guru/pamong yg terlatih, bahan belajar yg tepat (modul, bahan bacaan, alat bantu) dan metodologi belajar yg tepat.
Dalam hubungan ini, metodologi belajar yg tepat dan telah banyak dikembangkan, dicakup dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (life skills education), yaitu pendidikan yg memberi kecakapan-kecakapan psikososial untuk dpt menghadapi berbagai tantangan dalam hidup sehari-hari.
Apakah yg disebut Kecakapan Hidup atau life skills?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengemukakan definisi life skills sebagai berikut.
kecakapan hidup atau life skills adalah berbagai kecakapan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif.
Dengan definisi tsb, maka skills atau “kecakapan” yang dapat digolongkan life skills sangatlah banyak dan beragam tergantung dari situasi dan kondisi sosial, maupun budaya masyarakat setempat.
Misalnya: life skills yang dibutuhkan atau dapat digunakan untuk memperoleh penghasilan/mencari nafkah (income generating) seperti menjahit, memasak, pertukangan, dan sebagainya.
Namun para ahli mengemukakan bahwa terdapat sejumlah kecakapan yang merupakan kecakapan dasar yang penting, dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak dan remaja.

Kecakapan tersebut adalah:
Pengambilan keputusan
Pemecahan masalah
Berpikir kritis
Berpikir kreatif
Berkomunikasi yang efektif

Kompetensi Psikososial yang telah disebutkan di atas, terbukti memegang peranan penting dalam meningkatkan kesehatan dalam arti luas, yaitu sehat fisik, mental dan sosial. Hal ini khususnya penting dalam upaya peningkatan kesehatan, dimana perilaku sangat berperan dalam menimbulkan masalah sosial dan kesehatan.

Mengapa remaja perlu LSE?
Karena saat ini anak-anak dan remaja kita dihadapkan pada berbagai situasi dan kondisi yang merupakan masalah yang dapat mengancam kesehatan dan kesejahteraan mereka, yaitu antara lain:
Penyalahgunaan narkoba dan rokok
Kekerasan, baik fisik maupun mental
Perkosaan dan eksploitasi seksual
Berbagai macam konflik
Ketimpangan gender
Masalah-masalah lingkungan
Masalah-masalah kesehatan reproduksi
Perilaku seks bebas
Kehamilan remaja/kehamilan tak diinginkan dan aborsi
Penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS.
Dalam upaya peningkatan kesehatan, pendidikan kecakapan hidup atau life skills education dapat diisi atau bermuatan dengan berbagai pengetahuan atau pendidikan kesehatan, dan hal ini dapat pula dilakukan dengan substansi-substansi yang lain, yang pada dasarnya akan memberi perubahan pada masalah-masalah lingkungan dan sosial yang mempengaruhi derajat kesehatan serta perkembangan anak dan remaja.
Mengapa Masalah Kesehatan ?
Karena kesehatan adalah masalah yang universal, berlaku sama untuk semua orang dan sangat mendasar bagi kehidupan manusia. Namun, sebagaimana telah disebutkan, kesehatan disini tidak saja kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental dan sosial. Sehingga pendidikan kecakapan hidup yg dikembangkan dgn muatan kesehatan disebut dengan “Pendidikan Kecakapan Hidup Sehat” atau “Healthy Life Skills Education”.
Pendidikan Kecakapan Hidup Sehat
Kerangka di bawah ini menunjukkan kedudukan pendidikan kecakapan hidup sehat sbg penghubung antara faktor pengetahuan, motivasi, tingkah laku/sikap, dan nilai hidup, serta perilaku positifdlm lingkup kesehatan fisik, mental dan sosial yg pd akhirnya diharapkan akan memberikontribusi thd pencegahan pertama masalah-masalah kesehatan.

Indikator Keberhasilan Pendidikan Kecakapan Hidup Sehat
Salah satu Indikator penting dalam PKHS adalah komunikasi guru-siswa berubah. Namun pada dasarnya PKHS adalah “a long-term process”.

Indikator dpt dikembangkan dari berbagai aspek:
Kesehatan mental
Perilaku hidup sehat dan sosial
Prestasi sekolah
Dari masing-masing aspek tsb, dapat dilihat peningkatan dan penurunannya
Kesehatan Mental
Harga diri meningkat
Kesadaran diri meningkat
Penyesuaian emosional dan sosial meningkat
Kecemasan menurun
Perilaku hidup sehat dan sosial
Penggunaan merokok menurun
Penyalahgunaan narkoba menurun
Kenakalan remaja menurun
Tindak kekerasan menurun
Prestasi Sekolah
Perilaku positif di kelas meningkat
Prestasi akademik meningkat
Angka absensi menurun
Kesemuanya dapat terjadi, karena dengan PKHS maka:
Kemampuan memecahkan masalah meningkat, kecakapan berkomunikasi meningkat dan kecakapan mengatasi berbagai masalah meningkat
Diposkan oleh AGUS SUTEJO

1. Pendahuluan

Dewasa ini kasus narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) telah merebak di negara kita, baik sebagai pengedar, pemakai, penjual, bahkan sebagi sebagai bandar. Kalangan pengonsumsi narkoba mulai dari orang-orang tua sampai pada generasi muda dan anak-anak. Jenisnya macam-macam, antara lain: ganja, morfin, ekstasi (ineks), lem aibon, atau shabu-shabu.

Pemakaian narkoba sangat dilarang di Indonesia (kecuali untuk kepentingan dunia kedokteran atau pengobatan). Bagi yang kedapatan membawa, menjual, memakai, bahkan memperjualbelikan narkoba akan dikenakan sanksi pidana karena telah melanggar Undang-Undang Psikotropika.

Meskipun orang yang terlibat dalam narkoba diberi sanksi hukum, tapi tidak membuat peredaran dan pemakainya jera dan terhenti. Secara nasional hampir setiap tahun kasus ini meningkat jumlahnya. Tahun 1998 pihak kepolisian mencatat 958 kasus, tahun 1999 meningkat menjadi 1.833, tahun 2000 menjadi 3.478, dan tahun 2001 bertambah lagi menjadi 3.617 (Data Polri tahun 1998-2001).

Menyikapi banyaknya kasus yang tercatat di pihak kepolisian di atas, kita sebagai generasi muda harus mawas diri jangan sampai ikut terlibat di dalamnya. Untuk itu diperlukan berbagai upaya pencegahannya. Dalam makalah ini akan dijelaskan upaya pencegahan narkoba yang barangkali bermanfaat sekali bagi generasi muda.

2. Pembahasan

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Pepatah ini masih berlaku bagi kita generasi muda yang belum terjamah narkoba. Pencegahan terhadap keterlibatan narkoba dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu: (1) melalui pendidikan agama; (2) organisasi.

2.1 Pendidikan Agama

Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang sudah diamandemen pasal 29 ayat (1) dan (2) dan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia, maka pendidikan agama merupakan segi pendidikan yang utama yang mendasari semua segi pendidikan lainnya.

Pentingnya Pendidikan Agama Islam berguna bagi siswa untuk menempatkan dirinya dalam pergaulan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga (rumah), di lingkungan masyarakat, maupun di lingkungan sekolah.

Menurut Purwanto (2000:158), “Pendidikan agama harus dimulai sedini mungkin sejak masih kecil”. Pendidikan agama ini harus dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua atau ayah sebagai kepala keluarga merupakan orang yang bertanggung jawab dalam menanamkan nilai-nilai dan norma-norma Agama Islam kepada anaknya. Penanaman nilai-nilai agama Islam dapat berguna bagi anak dalam mempertebal iman dan taqwa. Dengan bekal iman dan taqwa ini akan membentengi anak dalam menghadapi pengaruh-pengaruhi negatif yang berkembang di masyarakat.

Pendidikan Agama Islam termasuk salah satu mata pelajaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan memiliki fungsi bagi siswa. Fungsi Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah adalah sebagai pengembangan, penyaluran, perbaikan, pencegahan, penyesuaian, sumber nilai, dan pengajaran (Depdikbud, 1993:1-2). Berikut ini diuraikan satu persatu fungsi Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran wajib yang diberikan di sekolah adalah:

a. Pengembangan

Pendidikan Agama Islam berfungsi sebagai pengembangan yaitu mampu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Menanamkan keimanan dan ketaqwaan ini merupakan kewajiban bagi orang tua dalam keluarga, sedangkan sekolah hanya berfungsi untuk menumbuhkembangkan diri siswa dengan melalui bimbingan. Pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.

b. Penyaluran

Pendidikan Agama Islam berfungsi sebagai penyaluran artinya menyalurkan siswa yang ingin mendalami bidang agama agar mereka dapat berkembang secara optimal.

c. Perbaikan

Pendidikan Agama Islam berfungsi sebagai perbaikan artinya dengan Pendidikan Agama, siswa dapat memperbaiki kesalahannya, kekurangan-kekurangan, kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam meyakini dan memahami ajaran Islam pada kehidupan sehari-hari.

d. Pencegahan

Pendidikan Agama Islam dapat mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif dari lingkungannya atau dari budaya asing yang dapat membahayakan dan menghambat perkembangan diri siswa menuju manusia Indonesia seutuhnya.

e. Penyesuaian

Pendidikan Agama Islam memberikan penyesuaian dalam membentuk siswa agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Agama Islam.

f. Sumber Nilai

Pendidikan Agama Islam dapat memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

g. Pengajaran

Pendidikan Agama Islam dapat berfungsi menyampaikan pengetahuan dan pengajaran secara fungsional di lembaga-lembaga pendidikan formal, mulai dari SD, SLTP, SMU/SMK, sampai dengan Perguruan Tinggi. Tujuannya adalah untuk memberikan bekal tentang pengetahuan keagamaan. Dengan harapan siswa dapat mengkaji lebih mendalam hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai keagamaan.

Dalam praktik sehari-hari terdapat hal-hal yang turut serta mempengaruhi Pendidikan Agama Islam terhadap siswa. Hal-hal yang mempengaruhi Pendidikan Agama Islam terhadap perkembangan siswa menyangkut tiga aspek (Depag RI, 2001:42-43). Ketiga aspek itu antara lain:

a. Aspek keyakinan (Aqidah)

Yang disebut keyakinan (aqidah) adalah sesuatu yang berkenaan dengan keimanan terhadap Allah SWT dan semua yang telah difirmankan untuk diyakini. Keyakinan seseorang mudah sekali goyah dan terpengaruh. Hal tersebut sebagai akibat dari lemahnya nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan yang ada dalam diri seseorang.

b. Aspek norma atau hukum (syari’ah)

Yang dimaksud norma atau hukum (syari’ah) adalah aturan-aturan atau ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah SWT yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Aspek ini sering disalahgunakan dalam praktik sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman seseorang terhadap norma atau hukum yang mengatur tentang tata hubungan seseorang berdasarkan nilai-nilai keagamaan.

c. Aspek Perilaku (akhlak)

Yang dimaksud dengan perilaku (akhlak) ialah sikap-sikap atau perilaku yang tampak dari pelaksanaan aqidah dan syariah. Persoalan akhlak menyangkut perkembangan kepribadian seseorang. Seseorang akan mempunyai akhlak yang mulia apabila ia telah memiliki dasar-dasar keimanan dan ketaqwaan. Tetapi, bila dasar keimanan dan ketaqwaan seseorang rendah, maka rendah pula akhlak dan moral seseorang. Mereka akan berbuat apa saja yang menurut pikiran dan perasaan walaupun bertentangan dengan ajaran Agam Islam.


Upaya pencegahan narkoba melalui pendidikan agama dapat dilakukan dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu dengan jalan salat. Dalam Al-quran dijelaskan bahwa “Inna sholata tanha Anil fasyai wal munkar”. Artinya: sesungguh salat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Dengan salat kita akan terhindar dari segala perbuatan yang akan merusak kehidupan kita.

Gunawan (2000:98) menambahkan bahwa meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan mengikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan atau pengajian, agar tidak mudah goyah terhadap berbagai godaan serta cobaan hidup. Meningkatkan toleransi, bertepa diri, asih terhadap sesama, sadar hukum, dan meyakini kebenaran hukum karma (barang siapa yang menanam jagung pasti akan menuainya secara berlipat ganda).

2.2 Organisasi

Pada dasarnya atau sesuai kodratnya, manusia adalah makhluk sosial/bermasyarakat, yang menurut Aristoteles disebut “Zoon Politicon”, sehingga pada dasarnya pula manusia itu tidak dapat hidup wajar dengan menyendiri. Hampir sebagian besar tujuannya ternyata dapat terpenuhi, apabila manusia itu berhubungan dengan keterbatasan sifat kodrat manusia sendiri, serta adanya pembatasan-pembatasan yang dihadapi manusia di dunia dalam usaha mencapai tujuannya.

Dalam usahanya untuk bermasyarakat itu, maka manusia berkelompok atau memasuki sesuatu kelompok atau organisasi, juga demi mencapai sesuatu kepuasan lahir/batin serta peningkatan diri. Kelompok atau organisasi itu kemudian menjadi himpunan manusia dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Organisasi menurut pengertiannya adalah suatu perkumpulan yang terdiri dari orang-orang yang memiliki satu tujuan (Moeliono, 1999:2335). Gunawan (2000:123) menambahkan bahwa dalam organisasi terdapat kerja sama kelompok demi mencapai tujuan bersama.

Seseorang memasuki organisasi karena terdorong untuk mencari suatu kepuasan, baik kepuasan fisik, maupun kepuasan non fisik. Kepuasan fisik menyangkut unsur kebendaan, seperti ingin mendapatkan uang/imbalan, barang, makanan, dan perumaham. Sedangkan kepuasan batin berkiatan dengan kepuasan rohani, seperti ingin mendapatkan pujian, kepuasan, penghargaan, status sosial, dll.

Seseorang yang bergabung dalam organisasi memiliki fungsi dan tujuan. Menurut Gunawan (2000:124), fungsi dan tujuan orang yang bergabung dalam organisasi antara lain sebagai berikut:

1. Untuk memecahkan masalah kesepian/kebingunan jiwanya. Orang tersebut sebaiknya memasuki organisasi, seperti pengajian yang bersifat spritual.
2. Untuk memecahkan masalah kesulitan belajar misalnya kesulitan belajar matematika/Bahasa Inggris, maka ia memakai organisasi/kelompok belajar Matematika/Bahasa Inggris.

Sesungguhnya organisasi itu ada yang bersifat positif dan negatif. Organisasi bersifat negatif muncul dengan sendiri tanpa ada perintah atau komando yang tidak jelas arah dan tujuannya, seperti; ganster, kelompok anak mabuk-mabukan, dan kelompok narkoba, sedangkan organisasi yang bersifat positif memiliki arah dan tujuan yang jelas dan positif, yaitu untuk mengembangkan dan menyalurkan bakat dan minat. Pada organisasi yangbersifat positif memiliki Anggaran Dasar dan Rumah Tangga dan aturan-aturan organisasi yang harus diikuti.

Banyak organisasi yang bersifat positif yang dapat diikuti kalangan siswa, seperti OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), Sanggar Seni, Pramuka, Kelompok Pencinta Alam, PMR (Palang Merah Remaja), dll. Semua organisasi yang disediakan itu dapat diikuti oleh siswa sesuai dengan bakat dan minatnya.

Bagi siswa sepatutnya dapat memilih organisasi yang bertujuan positif agar terhindar dari keterlibatannya terhadap narkoba sehingga mereka akan lebih mudah merencakan kehidupan yang lebih baik.

3. Penutup

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) telah melanda di lingkungan sekeliling kita. Jumlah pemakainya meningkat dari tahun ke tahun. Pemakai narkoba tidak hanya terbatas pada generasai tua saja, tetapi juga dikonsumsi oleh kalangan generasi muda. Narkoba dapat dihindari dan dicegah dengan dua pendekatan, antara lain: (1) melalui pendidikan agama; (2) organisasi. Pendekatan Pendidikan Agama dilakukan untuk meningkatkan ketaqwaan tehadap Allah SWT, yaitu dengan cara mengerjakan salat lima waktu sehari semalam, dan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan (spritual). Pendekatan organisasi dapat dilakukan dengan cara mengikuti organisasi (perkumpulan) yang memiliki arah dan tujuan yang jelas atau positif. Organisasi yang dapat diikuti oleh siswa antara lain: OSIS, Karang Taruna, Kelompok Belajar, Pramuka, PMR, Sanggar Seni, dan lain-lain.

3.2 Saran-saran

Berikut ini penulis memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Pencandu narkoba telah nyata-nyata merusak masa depan seseorang, untuk itu perlu dihindari.
2. Hendaknya siswa dapat mengisi hari-harinya dengan mendekatkan kepada Allah SWT dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat positif.
3. Pada orang tua, guru, dan masyarakat sebaiknya selalu memberikan arahan-arahan yang berisfat positif untuk menghindari bahaya narkoba bagi generasi muda.

BAB II
MODEL MEDIA PENDIDIKAN INKLUSIF

A. Pengertian
Media pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sedemikian rupa sehingga pembelajaran terjadi secara efektif dan efisien. Media adalah alat yang dapat membantu pembelajaran yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan sempurna. Media pendidikan juga berperan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga peserta didik tidak merasa bosan dalam belajar.

Aapapun yang disampaikan oleh pendidik mesti menggunakan media, paling tidak yang digunakannya adalah media verbal yaitu berupa kata-kata yang diucapkan. Segala sesuatu yang terdapat di lingkungan sekolah, baik benda hidup atau tidak, yang pada awalnya tidak dilibatkan dalam pembelajaran, tetapi setelah dirancang dan dipakai dalam kegiatan pembelajaran, benda tersebut berstatus media sebagai alat perangsang belajar. Dengan kata lain, benda tersebut dapat disebut media jika dirancang dan dipakai dalam pembelajaran.

Menurut Koyo Kartasurya, media itu digolongkan menjadi 4 (empat) jenis, yakni:
1. Media visual; gambar, photo, sketsa, diagram grafik, karton foster, peta dan globe.
2. Media dengar: radio, tape rekorder, laboratorium bahasa, dan CD.
3. Project still media: slide, OHP.
4. Projected mosion media: TV, Vidio, Komputer.

Sementara menurut Amir Hamzah Sulaeman, media pendidikan dapat digolongkan menjadi 6 (enam) jenis, yakni:
1. Alat-alat visual dua dimensi pada bidang yang tidak transparan, gambar, grafik, peta, poster.
2. Berbagai papan: papan tulis, white board, papan planel.
3. Visual 3 dimensi: benda asli, model, barang/alat tiruan.
4. Audio: radio, tape rekorder, CD.
5. Audiovisual murni: film.
6. Demonstrasi dan widya wisata.

B. Perencanaan
Dalam merencanakan pengadaan media pendidikan di sekolah penyelenggara pendidikan inklusi agar sesuai dengan materi pelajaran, kondisi serta potensi peserta didik, maka perlu memperhatikan kriteria-kriteria antara lain :
1. Kriteria Umum
a. Segi Edukatif
Segi Edukatif berarti bahwa media pendidikan harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku, yang harus mengacu kepada kompetensi yang diharapkan, materi, metode pembelajaran dan sesuai dengan jenis, jenjang dan satuan pendidikan serta tingkat perkembangan anak.
b. Segi Teknis
Segi teknis meliputi kebenaran media (validity), ketepatan ukuran media, ketelitian media, keamanan dan kemudahan penggunaan, keawetan dan ketahanan serta kejelasan panduan.
c. Segi Estetika
Segi estetika menyangkut bentuk dan warna. Bentuk dan warna yang menarik dan estetik (indah) akan dapat menjadi daya tarik bagi peserta didik.
d. Efektivitas dan Efisiensi
Media pendidikan yang efektif dan efisien adalah apabila penggunaan media pendidikan tersebut dapat menghemat waktu, tenaga dan tepat mencapai sasaran/tujuan.

2. Kriteria Khusus
Kriteria khusus adalah kriteria yang dituangkan dalam bentuk spesifikasi media yang biasanya meliputi rupa/bentuk, ukuran, bahan, dan warna dari media pendidikan tersebut yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.


Hal penting yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pengadaan media pendidikan yaitu perlu dilakukan analisis kurikulum, khususnya yang berkaitan dengan kompetensi yang diharapkan, materi pembelajaran, strategi dan metoda yang akan dipakai.

Contoh analisis kebutuhan media pendidikan
Mata Pelajaran : ...................................................................
Satuan Pendidikan : ...................................................................
Kelas : ...................................................................
Kompetensi/ Sub. Komp Materi Metoda Media pendidikan yang dibutuhkan Ketr
Nama Bentuk Ukuran Bahan
1 2 3 4 5 6 7 8












C. Unsur Pelaksana
Komponen-komponen yang terkait dengan media pendidikan adalah sebagai berikut
1. Sumber Daya Manusia
2. Bahan
3. Peralatan
4. Lingkungan
5. Teknik
6. Pesan
Sedangkan unsur pelaksana media pendidikan dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Guru di sekolah biasa;
2. Guru Pendidkan Khusus;
3. Dokter;
4. Psikolog;
5. Ahli pendidikan luar biasa;
6. Ahli olah raga;
7. Konselor;
8. Sosial Worker;
9. Speechtherapi;
10. Fisiotherapi;
11. Ahli Teknologi Komunikasi / ICT; dan lain-lain

D. Model Kebutuhan Media Pendidikan
Berdasarkan karakteristiknya, model media pendidikan dapat digolongkan menjadi 2. (dua) bagian yaitu:
1. Media dua dimensi
Media dua dimensi meliputi media grafis, media bentuk papan, dan media cetak
2. Media tiga dimensi
Media tiga dimensi dapat berwujud sebagai benda asli baik hidup atau mati, dan dapat pula berwujud sebagai tiruan yang mewakili aslinya.

Berikut adalah kebutuhan media pendidikan pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif:
1. Tunanetra
a. Alat assesmen:
1) Survival lens set
2) Snellen chart
3) Ishihara test
4) Snellen chart electronik
b. Alat orientasi mobilitas:
1) Tongkat panjang
2) Tongkat lipat
3) Tongkat elektrik
4) Blind fold
5) Bola bunyi
6) Tutup kepala
7) Bel
8) Lampu warna-warni
9) Lampu senter
10) Miniatur benda
c. Alat bantu untuk tunanetra:
1) Magnifer lens set
2) CCTV
3) View scan
4) Televisi
5) Microscope/magnifire
6) Komputer dengan software Braille
7) Reglet
8) Stylus
9) Catur Tunanetra
10) Meja tenis tunanetra
11) Tape recorder
12) Buku bicara (talking book) / kaset
13) Buku-buku Braille
14) Alat-alat musik: Keyboard, Genderang, Gong, Sound system
15) Studio rekaman
16) Alat-alat masage
17) Anatomi tubuh manusia (laki-laki dan perempuan)
18) Jaringan ICT

2. Tunarungu
a. Alat assesmen
1) Scan tes
2) Bunyi – bunyian: gendang, krincingan, dll
3) Garputala
4) Audiometer dan blanko audiogram
5) Mobile sound proof
6) Sound level meter
b. Alat bantu dengar (hearing Aid)
1) Model saku
2) Model belakang telinga
3) Hearing group
4) Loop induction system
c. Alat bina persepsi Bunyi dan Irama (BPBI)
1) Speech trainner and sound simulation
2) Spatel
3) Cermin
4) Alat latihan meniup (seruling, kapas, terompet, peluit)
5) Alat musik perkusi (gong, gendang, tamborin, triangle, drum)
6) Meja latihan wicara
7) Sikat getar
8) Lampu aksen (kontrol suara)
9) TV/ VCD/ DVD
10) Komputer
11) LCD
12) Alat-alat musik assesment
13) Alat-alat drumband
d. Alat-alat keterampilan:
1) jahit, ukir, anyam
2) sablon
3) perbengkelan
4) tata boga
5) peternakan
6) pertukangan kayu: bubut, kayu, dll
7) keramik
8) pertukangan batu
e. Alat-alat olahraga
f. Jaringan ICT


3. Tunagrahita
a. Alat assesmen
1) Tes intelegensi (WISC-R)
2) Tes intelegensi stanford binet
3) Cognitive visual
b. Alat kemampuan merawat diri
1) Alat-alat mandi
2) Alat-alat merias diri
3) Perlengkapan pakaian
4) Perlengkapan rumah tangga
5) Alat-alat keterampilan: pertukangan/kerajinan kayu, pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan tata boga
c. Alat-alat olahraga
d. Alat-alat kesenian

4. Tunadaksa
a. Assesment
1) Finger goniometer
2) Flexometer
3) Plastic goniometer
4) Reflex hammer
5) Postur evaluation set
6) TPD Arshesio meter
7) Ground rhytem timbre instrumen
8) Cabinet geometri insert
9) Collor sorting box
10) Collor sorting insert
11) Tactile bord set
12) Kolam bola-bola
13) Bola besar
b. Alat latihan fisik
1) Pulley weight
2) Kanavel table
3) Squeez ball
4) Restorator hand
5) Restorator leg
6) Tread mill jogger
7) Safety walking strap
8) Straight (tangga)
9) Sand bund
10) Exercise mat
11) Incline mat
12) Neuro development rolls
13) Height adjustable crowler
14) Floor sitter
15) Kursi CP
16) Individual stand-in table
17) Walking paralel
18) Walker khusus CP
19) Vestibular board
20) Balance beam set
21) Dynamic body and balance
22) Kolam bola-bola
23) Vibrator
24) Infra red lamp (infra film)
25) Dual speed messager
26) Speed Training Devices
27) Bola karet
28) Balok berganda
29) Balok titian
c. Alat Orthotic dan Prosthetic
1) Cock-up resting splint
2) Rigit immobilitation elbow brace
3) Flexion extention
4) Back splint
5) X – splint
6) Long leg brace set
7) Ankle or short leg brace
8) Original thomas collar
9) Simple cervical brace
10) Corsett
11) Crutch (kruk)
12) Club foot walker shoes
13) Thomas wellshoes
14) Whell chair (kursi roda)
15) Kaki palsu
d. Alat-alat kesenian musik:
1) Sound system
2) LCD
3) Komputer
4) Handycam
5) Camera Photo
e. Alat -alat olahraga
f. Alat-alat keterampilan

5. Tunalaras
a. Alat assesmen
1) Adaptive Behaveor Inventory Child
2) AAMD Adaptve Behaveor Scale
b. Alat terapi perilaku
1) Duck wall
2) Step down account
3) Bola sepak bertali
4) Puppen house rolling boxer
5) Samsak
6) Hoopla
7) Sand pits
8) Animal matching games
9) Contructive puzzle
10) Animal puzzle
11) Fruits puzzle
12) Konsentrasi mekanik
c. Alat-alat terapi fisik
d. Alat-alat keterampilan:
1) batik
2) bubut
3) pertukangan kayu
4) pertukangan batu
5) ukir
6) sablon
e. Alat-alat pertanian
1) peternakan
2) pertanian
3) perikanan
f. Alat-alat kesenian : musik dan tari
g. Alat-alat olahraga

6. Anak Cerdas Istimewa (Gifted) dan Bakat Istimewa (Talented)
a. Alat assesmen
1) Test intelegensi WISC-R
2) Test intelegensi Stanford Binet
3) Cognitive Ability Test
4) Differential Aptitude Test
b. Sarana sebagai sumber belajar
1) Buku-buku perpustakaan
2) Internet/ICT (komputer)
3) CD, VCD, DVD, OHP
4) Kaset Rekaman
5) Slide Proyektor, LCD
6) Laboratorium MIPA
7) Laboratorium Bahasa
8) Alat-alat kesenian
9) Alat-alat olahraga
10) Handycam
11) Digital Camera
12) Studio musik/kesenian
13) Alat-alat keterampilan:
1) batik
2) bubut
3) pertukangan kayu
4) pertukangan batu
5) ukir
6) sablon
14) Alat-alat pertanian
1) peternakan
2) pertanian
3) perikanan
15) Alat-alat olahraga

Berikut adalah contoh-contoh media pembelajaran secara khusus berdasarkan karakteristik peserta didik, antara lain:
No. Jenis Contoh Model
1.









Tunanetra Total: Peta timbul, radio, audio, penggaris Braille, blokies, papan baca, model anatomi mata, meteran braille, puzzel buah-buahan, talking watch, kompas Braille, botol aroma, bentuk-bentuk geometri, tape recorder, komputer dengan software jaws, media tiga dimensi, media dua dimensi, lingkungan sekitar anak, Braille kit, mesin tik Braille, kamus bicara, kompas bicara, printer braille, collor sorting box.
Low Vision : CCTV, Magnifier Lens Set, View Scan, Televisi, Microscope, large print/tulisan awas yang diperbesar sesuai kondisi mata anak.
2 Tunarungu Foto-foto, video, kartu huruf, kartu kalimat, anatomi telinga, miniatur benda, finger alphabet, torso setengah badan, puzzle buah-buahan, puzzle binatang, puzzle konstruksi, silinder, model geometri, menara segi tiga, menara gelang, menara segi empat, atlas, globe, peta dinding, miniatur rumah adat.
3. Tunagrahita dan anak lamban belajar Gardasi kubus, gradasi balok, silinder, manara gelang, kotak silinder, multi indra, puzzle binatang, puzzle konstruksi, puzzle bola, boks sortor warna, geometri tiga dimensi, papan geometri, konsentrasi mekanik, puzzle set, abacus, papan bilangan, kotak bilangan, sikat gigi, dresing prame set, pias huruf, pias kalimat, alphabet fibre box, bak pasir, papan keseimbangan, power raider.
4 Tunadaksa Kartu abjad, kartu kata, kartu kalimat, torso seluruh badan, geometri shape, menara gelang, menara segi tiga, gelas rasa, botol aroma, abacus dan washer, papan pasak, kotak bilangan.
5. Tunalaras Animal maching games, sand pits, konsentrasi mekanik, animal puzzle, fruits puzzle, rebana, flute, torso, constructive puzzle, organ.
6. Anak berbakat Buku paket, buku referensi, buku pelengkap, buku bacaan, majalah, koran, internet, modul, lembar kerja, komputer, VCD, museum, perpustakaan, TV, OHP, chart, dsb
7 Kesulitan Pembelajaran Disleksia: kartu abjad, kartu kata, kartu kalimat
Disgrafia: kartu abjad, kartu kata, kartu kalimat, balok
bilangan
Diskalkulia: balok bilangan, pias angka, kotak bilangan,
papan bilangan
8. Autis Kartu huruf, kartu kata, katu angka, kartu kalimat, konsentrasi mekanik, komputer, mnara segi tiga, menara gelang, fruit puzzel, construktiv puzzle
9. Tunaganda Disesuaikan dengan karakteristik kelainannya
10. HIV dan AIDS Disesuaikan dengan kondisi anak, berat ringan penyakit, dan setting pelayanan pendidikan
11. Korban Penyalahgunaan Narkoba Disesuaikan dengan kondisi anak, tergantung berat ringannya kondisi anak.
13. Indigo Digunakan media seperti anak pada umumnya.


E. Evaluasi
Untuk mengetahui apakah media pendidikan yang digunakan efektif dan efisien, maka perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Dalam evaluasi hendaknya mempertimbangkan sekurang-kurangnya 3 (tiga) aspek yang terkait, yakni:
1. Evaluasi terhadap media pendidikan.
Apakah media pendidikan berguna untuk menimbulkan motivasi belajar peserta didik dan interaksi antara peserta didik dengan lingkungan.
2. Evaluasi terhadap pendidik (fasilitator)
Apakah pendidik (fasilitator) memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan melalui media pendidikan yang digunakannya.
3. Evaluasi terhadap peserta didik.
Apakah media pendidikan memungkinkan peserta didik dapat belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

F. Faktor Pendukung
1. Adanya kepedulian pemerintah, baik pemerintah pusat, propinsi maupun daerah untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan inklusif sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
2. Keterlibatan stakeholder sebagai penyelenggara pendidikan yang menyediakan fasilitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
3. Adanya kepedulian pihak dunia usaha untuk menyediakan dan memproduksi media pendidikan yang dibutuhkan.

G. Faktor Hambatan
1. Terbatasnya dana untuk penyediaan media pendidikan yang dibutuhkan.
2. Minimnya kreativitas dikalangan masyarakat dalam menciptakan media pendidikan.
3. Terbatasnya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan melalui media pendidikan.
4. Kurangnya sosialisasi akan pentingnya media pendidikan bagi peserta didik dan lembaga penyelenggara pendidikan.
5. Terbatasnya keberadaan media pendidikan yang spesifik bagi peserta didik berkebutuhan khusus, karena tidak semua produk bisa dengan mudah didapatkan di lapangan pasar.

Rabu, 22 Desember 2010

artikel BI

Diposting oleh sylvanickeummah di 21.15 0 komentar
Serba-Serbi Stroke

Apakah stroke itu ?

Penyakit stroke adalah gangguan fungsi otak akibat aliran darah ke otak mengalami gangguan (berkurang). Akibatnya, nutrisi dan oksigen yang dbutuhkan otak tidak terpenuhi dengan baik. Penyebab stroke ada 2 macam, yaitu adanya sumbatan di pembuluh darah (trombus), dan adanya pembuluh darah yang pecah.

Umumnya stroke diderita oleh orang tua, karena proses penuaan menyebabkan pembuluh darah mengeras dan menyempit (arteriosclerosis) dan adanya lemak yang menyumbat pembuluh darah (atherosclerosis). Tapi beberapa kasus terakhir menunjukkan peningkatan kasus stroke yang terjadi pada usia remaja dan usia produktif (15 - 40 tahun). Pada golongan ini, penyebab utama stroke adalah stress, penyalahgunaan narkoba, alkohol, faktor keturunan, dan gaya hidup yang tidak sehat.

Penyebab stroke

Pada kasus stroke usia remaja, faktor genetika (keturunan) merupakan penyebab utama terjadinya stroke. Sering ditemui kasus stroke yang disebabkan oleh pembuluh darah yang rapuh dan mudah pecah, atau kelainan sistem darah seperti penyakit hemofilia dan thalassemia yang diturunkan oleh orang tua penderita. Sedangkan jika ada anggota keluarga yang menderita diabetes (penyakit kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi), dan penyakit jantung, kemungkinan terkena stroke menjadi lebih besar pada anggota keluarga lainnya.

Penyebab serangan stroke lainnya adalah makanan dengan kadar kolesterol jahat (Low Density Lipoprotein) yang sangat tinggi. Koleserol jahat ini banyak terdapat pada junk food, atau makanan cepat saji. Selain itu, penyebab terjadinya serangan stroke lainnya adalah kebiasaan malas berolah raga dan bergerak, banyak minum alkohol, merokok, penggunaan narkotika dan zat adiktif, waktu istirahat yang sangat kurang, serta stress yang berkepanjangan. Pecahnya pembuluh darah juga sering diakibatkan karena penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi).

Gejala terjadinya serangan stroke

Gejala awal stroke umumnya pusing, kepala serasa berputar (seperti penyakit vertigo), kemudian disusul dengan gangguan berbicara dan menggerakkan otot mulut. Gejala lainnya adalah tergangguanya sensor perasa (tidak bisa merasakan apapun , seperti dicubit atau ditusuk jarum) dan tubuh terasa lumpuh sebelah, serta tidak adanya gerakan refleks. Sering juga terjadi buta mendadak atau kaburnya pandangan (karena suplai darah dan oksigen ke mata berkurang drastis), terganggunya sistem rasa di mulut dan otot-otot mulut (sehingga sering dijumpai wajah penderita menjadi mencong), lumpuhnya otot-otot tubuh yang lain, dan terganggunya sistem memory dan emosi. Sering dijumpai penderita tidak dapat menghentikan tangisnya karena lumpuhnya kontrol otak pada sistem emosinya. Hal itu membuat penderita stroke berlaku seperti penderita penyakit kejiwaan, padahal bukan. Hal-hal seperti ini yang perlu dimengerti oleh keluarga penderita.

Proses penyembuhan

Ada 2 proses penyembuhan utama yang harus dijalani penderita. Pertama adalah penyembuhan dengan obat-obatan di rumah sakit. Kontrol yang ketat harus dilakukan untuk menjaga agar kadar kolesterol jahat dapat diturunkan dan tidak bertambah naik. Selain itu, penderita juga dilarang makan makanan yang dapat memicu terjadinya serangan stroke seperti junk food dan garam (dapat memicu hipertensi).

Proses penyembuhan kedua adalah fisiotherapy, yaitu latihan otot-otot untuk mengembalikan fungsi otot dan fungsi komunikasi agar mendekati kondisi semula. Fisiotherapi dilakukan bersama instruktur fisiotherapi, dan pasien harus taat pada latihan yang dilakukan. Jika fisiotherapi ini tidak dijalani dengan sungguh-sungguh, maka dapat terjadi kelumpuhan permanen pada anggota tubuh yang pernah mengalami kelumpuhan.

Kesembuhan pada penderita stroke sangat bervariasi. Ada yang bisa sembuh sempurna (100 %), ada pula yang cuma 50 % saja. Kesembuhan ini tergantung dari parah atau tidaknya serangan stroke, kondisi tubuh penderita, ketaatan penderita dalam menjalani proses penyembuhan, ketekunan dan semangat penderita untuk sembuh, serta dukungan dan pengertian dari seluruh anggota keluarga penderita. Seringkali ditemui bahwa penderita stroke dapat pulih kembali, tetapi menderita depresi hebat karena keluarga mereka tidak mau mengerti dan merasa sangat terganggu dengan penyakit yang dideritanya (seperti sikap tidak menerima keadaan penderita, perlakuan kasar karena harus membersihkan kotoran penderita, menyerahkan penderita kepada suster yang juga memperlakukan penderita dengan kasar, dan sebagainya). Hal ini yang harus dihindarkan jika ada anggota keluarga yang menderita serangan stroke.

about HIV/AIDS

Diposting oleh sylvanickeummah di 21.12 0 komentar
diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orang tuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seksual. Selain itu, tingkat sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar.
Masa remaja adalah masa transisi antara kanak-kanak dengan dewasa, dan reaktif belum mencapai tahap kematangan mental dan social sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan social yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi, tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa krisis.
Di negara-negara berkembang, masa transisi ini berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama kali ternyata selalu lebih muda daripada usia ideal untuk menikah. Menurut data yang ada, sekitar 60% kelahiran anak di kalangan remaja di dunia adalah kehamilan yang tidak diharapkan. Hal ini diperkuat oleh semakin canggihnya perkembangan teknologi komunikasi yang menyebarkan berbagai informasi dan hiburan budaya pop sehingga justru memancing remaja untuk mengadopsi perilaku- perilaku yang tidak sehat, mempercepat usia awal seksual aktif, serta dapat mengantarkan remaja pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi. Mengingat dampaknya tersebut, maka sebagian masyarakat tidak perlu ragu dan segera menyadari pentingnya pendidikan seks bagi remaja.

I I . Bahaya Seks Bebas
a.Dampak Seks Bebas terhadap Kesehatan Fisik dan Psikologis
Remaja
Pengetahuan remaja mengenai dampak seks bebas masih sangat rendah. Yang paling menonjol dari kegiatan seks bebas ini adalah meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia dimana 20% pelakunya adalah remaja. Di Amerika, 1 dari 2 pernikahan berujung pada perceraian, 1 dari 2
anak hasil perzinahan, 75% gadis mengandung di luar nikah, setiap hari terjadi 1,5 juta hubungan seks dengan pelacuran. Di Inggris 3 dari 4 anak hasil perzinahan, 1 dari 3 kehamilan berakhir dengan aborsi, dan sejak tahun 1996 penyakit syphillis meningkat hingga 486%. Di Perancis, penyakit gonorhoe meningkat 170% dalam jangka waktu satu tahun. Di negara liberal, pelacuran, homoseksual/ lesbian, incest, orgy, bistiability, merupakan hal yang lumrah bahkan menjadi industri yang menghasilkan keuntungan ratusan juta US dolar dan disyahkan oleh undang-undang.
Lebih dari 200 wanita mati setiap hari disebabkan komplikasi pengguguran (aborsi) bayi secara tidak aman. Meskipun tindakan aborsi dilakukan oleh tenaga ahlipun masih menyisakan dampak yang membahayakan terhadap keselamatan jiwa ibu. Apalagi jika dilakukan oleh tenaga tidak profesional (unsafe abortion). Secara fisik tindakan aborsi ini memberikan dampak jangka pendek secara langsung berupa perdarahan, infeksi pasca aborsi, sepsis sampai kematian. Dampak jangka panjang berupa mengganggu kesuburan sampai terjadinya infertilitas.
Secara psikologis seks pranikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat.
Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan dari pelajar SMP, 10,53% pernah melakukan ciuman bibir, 5,6% melakukan ciuman dalam, dan 3,86% pernah berhubungan seksual. Dari aspek medis, menurut Dr. Budi Martino L., SPOG, seks bebas memiliki banyak konsekwensi misalnya, penyakit menular seksual, (PMS), selain juga infeksi, infertilitas dan kanker. Tidak heranlah makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS).
Tindakan remaja yang seringkali tanpa kendali menyebabkan bertambah panjangnya problem sosial yang dialaminya. Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilan melakukan aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu mengalami kematian oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50% diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman dan 90% terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Bahaya seks bebas antara lain :
HIV/AIDS

Kemandulan

Cacat bawaan

Kehamilan

Narkoba

Putus sekolah

Pernikahan dini

Perceraian

Penyakit kelamin, dll
Untuk menghindari perilaku seks remaja yang berisiko, peran orang tua dalam masa tumbuh kembang remaja sangatlah penting, antara lain bahwa orang tua harus bisa menjadi sahabat remaja. Agar hubungan orang tua dengan remaja terjalin dengan baik dan dapat menyelesaikan masalah remaja dengan baik dan tuntas, diperlukan komunikasi yang baik dan efektif.
Perilaku seks bebas tidak aman di kalangan remaja dapat dan banyak menimbulkan dampak negatif, baik pada remaja putra maupun putri. Biasanya dampak negatif atau akibat buruk dari perilaku seks bebas tidak aman tersebut lebih berat dirasakan oleh remaja putri ketimbang remaja putra. Seringkali remaja berperilaku seks berisiko karena tidak punya cukup pengetahuan mengenai akibatnya. Akibat perilaku seks bebas bagi remaja antara lain:
Kehamilan
Hubungan seks satu kali saja bisa mengakibatkan kehamilan bila
dilakukan pada masa subur.
Aborsi tidak aman
Menggugurkan kandungan dengan cara aborsi tidak aman, karena dapat
mengakibatkan kematian.
Penyakit kelamin
Hubungan seks satu kali saja dapat menularkan penyakit bila dilakukan dengan orang yang tertular salah satu penyakit kelamin. virus yang bisa ditularkan melalui hubungan seks bebas adalah virus HIV dan sipilis.
Tertular HIV/AIDS
Untuk menghindari perilaku seks remaja yang berisiko, peran orang tua dalam masa tumbuh kembang remaja sangatlah penting, antara lain bahwa orang tua harus bisa menjadi sahabat remaja. Agar hubungan orang tua dengan remaja terjalin dengan baik dan dapat menyelesaikan masalah remaja dengan baik dan tuntas, diperlukan komunikasi yang baik dan efektif.
HIV singkatan dari “Human Immunodeficiency Virus”. Virus ini adalah virus yang diketahui menjadi penyebab AIDS [Acquired Immune Deficiency Syndrome]. Jika seseorang positif HIV, ini berarti mereka terinfeksi virus tersebut. Seseorang yang terinfeksi dengan HIV tidak mempunyai AIDS selama virus tersebut secara serius merusak sistem kekebalan, membuat mereka
lemah/mudah
terserang
infeksi,
beberapa di antaranya menyebabkan kematian. HIV ditularkan melalui cairan tubuh kebanyakan dalam darah, sperma, cairan vagina dan ASI.
Penyebab seseorang dapat menjadi HIV positif, antara lain :
-Berhubungan seksual tanpa menggunakan pelindung dengan orang yang terinfeksi (kasus kebanyakan).

-Berbagi jarum suntik atau alat suntik yang terkontaminasi atau alat tindik.
-Darah dan produk darah melalui, contohnya, transfusi, pencangkokan
organ atau jaringan yang terinfeksi
-Penularan melalui ibu yang terinfeksi kepada anak dalam kandungan atau
pada saat kelahiran dan pemberian ASI.
Seseorang tidak akan menjadi HIV positif dengan melakukan :
-Berjabat tangan
-Berbagi alat potong
-Berpelukan
-Minum dari mata air
-Menggunakan gelas yang sama
-Berteman dengan penderita
-Bermain bersama
-Belajar bersama atau bersekolah di tempat yang sama

Meski orang Indonesia yang sekuler telah mengenal program Keluarga Berencana dengan slogan “2 anak cukup”, pembicaraan mengenai seks masih dianggap tabu oleh sebagian penduduk. Saat ini epidemi HIV/AIDS terkonsentrasi pada tingkat penularan HIV yang masih rendah pada penduduk secara umum. Namun pada populasi tertentu, tingkat penularannya cukup tinggi, yaitu diantara para pekerja seks komersial dan pengguna jarum suntik yang kian meningkat.
Seperti halnya Vietnam dan China, epidemi HIV/AIDS di Indonesia masih digolongkan baru timbul. Para pakar memperkirakan ada sekitar 90.000– 130.000 orang Indonesia yang terjangkit HIV. Tapi UNICEF yakin angka ini akan bertambah jika tidak ada perubahan perilaku populasi yang beresiko dan menjadi perantara. Tidak sulit melihat gambaran penularan ini di masyarakat umum. Diperkirakan ada 7–10 juta laki-laki Indonesia mengunjungi pelacuran tiap tahunnya. Mereka biasanya enggan menggunakan kondom. Diperkirakan juga ribuan perempuan telah terinfeksi secara seksual oleh laki-laki yang menyuntikkan obat-obatan.
III.Pencegahan Seks Bebas
a.Pencegahan HIV/AIDS
HIV/AIDS adalah masalah kesehatan dan masalah sosial. Karena penyebaran HIV/AIDS sangat kuat dipengaruhi oleh tingkah laku manusia, dan segala usaha untuk pencegahannya haruslah mempertimbangkan faktor ini. Usaha pencegahan di antara populasi umum terdiri dari perbaikan ketrampilan dan pengetahuan, dalam cara yang dapat diterima oleh nilai- nilai agama dan norma-norma budaya, tentang bagaimana virus ini berpindah, konsekuensi dan pencegahannya, penggunaan metode IEC yang telah ada.
Penyebarluasan pengetahuan melalui jalur pendidikan formal dan informal begitu juga melalui jalur agama dicapai dengan cara sistematis memasukan material tentang HIV/AIDS ke dalam kurikulum reguler mereka.
b.Pencegahan Menurut Agama
Dalam agama tentu saja seks bebas sangat dilarang, maka dari itu untuk mencegah terjadinya seks bebas khususnya pada anak-anak remaja, yang sangat rentan untuk melakuakan hubungan seks bebas, di perlukan adanya penyuluhan agama lebih banayak dan menanamkan nilai-nilai agama ke dalam diari anak tersebut. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan agama dengan kecenderungan seseorang untuk tidak menggunakan narkoba, dan tidak melakukan seks bebas. Karena itu pengetahuan agama sangat penting untuk menghindarkan remaja dari narkoba dan seks bebas.
Pengetahuan agama lebih signifikan untuk menghindarkan seseorang melakukan perilaku beresiko tinggi untuk dijangkiti AIDS dibandingkan dengan pengetahuan yang tinggi tentang AIDS, karena remaja sangat perlu ditanamkan nilai-nilai agama dan moral yang dapat membentangi mereka dari perilaku yang beresiko tinggi untuk dijangkiti AIDS.
c.Pencegahan Seks Bebas dalam Keluarga
Keluarga sangat lah penting bagi pertumbuhan seorang anak, dan nilai- nilai moral yang sangat penting merasuk kepada anak melalui lingkungan dan keluara. Dan orang yang sangat berperan penting dalam hal itu adalah orang tua. Maka diharapkan orang tua dapat memberikan contoh dan nasehat-nasehat yang sangat berarti kepada anak, sehingga seorang anak akan dapat menyikapi hal-hal yang buruk dengan baik seperti menolak berhubungan seks secara bebas dan menjauhinya.
Ketidakpekaan orang tua dan pendidik terhadap kondisi remaja menyebabkan remaja sering terjatuh pada kegiatan tuna sosial. Ditambah lagi keengganan dan kecanggungan remaja untuk bertanya pada orang yang tepat semakin menguatkan alasan kenapa remaja sering bersikap tidak tepat terhadap organ reproduksinya. Data menunjukkan dari remaja usia 12-18 tahun, 16% mendapat informasi seputar seks dari teman, 35% dari film porno, dan hanya 5% dari orang tua.
Remaja dalam perkembangannya memerlukan lingkungan adaptip yang menciptakan kondisi yang nyaman untuk bertanya dan membentuk karakter bertanggung jawab terhadap dirinya. Ada kesan pada remaja, seks itu menyenangkan, puncak rasa kecintaan, yang serba membahagiakan
sehingga tidak perlu ditakutkan. Berkembang pula opini seks adalah sesuatu yang menarik dan perlu dicoba (sexpectation). Terlebih lagi ketika remaja tumbuh dalam lingkungan mal-adaptif, akan mendorong terciptanya perilaku amoral yang merusak masa depan remaja.
Dampak pergaulan bebas mengantarkan pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas, tindak kriminal termasuk aborsi, narkoba, serta berkembangnya penyakit menular seksual (PMS).
IV. Penutup
Seperti kita ketahui bahwa masalah HIV/AIDS bukan semata-mata masalah kesehatan tetapi mempunyai implikasi politik, sosial, agama dan hukum. Bahkan bila tidak dilakukan penanganan yang sungguh-sungguh maka dampaknya secara nyata, cepat atau lambat dapat menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia dan pada akhirnya hal ini akan mengancam upaya bangsa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Penanggulangan HIV/AIDS yang cukup efektif dilakukan melalui pendidikan baik kepada peserta didik, guru maupun tenaga kependidikan baik pada jalur pendidikan formal maupun non formal, yang dapat dilakukan dengan berbagai cara termasuk mengintegrasikan materi HIV/AIDS pada setiap kegiatan pelatihan atau kegiatan belajar mengajar yang relevan, bahkan dapat pula dilakukan secara khusus melalui media komunikasi, informasi dan edukasi yang relevan.
Strategi pencegahan HIV/AIDS ini disusun dengan mengacu kepada strategi nasional penanggulangan HIV/AIDS 2003-2007 dan keputusan menteri pendidikan nasional tentang pedoman pencegahan HIV/AIDS melalui pendidikan. Strategi nasional ini dimaksudkan sebagai acuan dan pedoman bagi para pengelola pendidikan baik di pusat maupun daerah, serta lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam melakukan upaya pendidikan pencegahan HIV/AIDS. Setiap unit kerja/lembaga penanggung jawab program dapat mengembangkan lebih lanjut strategi yang tetap serta program yang sesuai dengan situasi dan kondisinya masing-masing.
PERBATASAN GREATER MEKONG SUBREGION


Jumlah pengidap HIV/AIDS dewasa (15-24 tahun) dan anak-anak diakhir 2003 :
 Kamboja ± 170.000 orang
 Laos ± 1.700 orang
 Thailand ± 570.000 orang
 Vietnam ± 220.000 orang
 Cina dan separuhnya di propinsi Yunan ± 840.000 orang
Dikalangan remaja, HIV sudah menjadi ancaman besar. Diantaranya factor yang mempengaruhi kerentanan masyarakat akan HIV :
 Kurangnya informasi tentang HIV
 Layanan kesehatan dan pendidikan
 Keingintahuan dan coba-coba remaja
 Hubungan seksual paksa dan ketimpangan gender
Mayoritas penduduk kawasan GMS yang miskin sangat rentan akan HIV/AIDS karena ;
 Kurangnya akses ke layanan pendidikan dan kesehatan
 Kemiskinan kurangnya informasi
 Penggunaan obat-obatan
 Perdagangan manusia
 Kurangnya kesempatan kerja bagi para wanita
 keterlibatan mereka dalam perdagangan seks
Sampai saat ini belum ada obat untuk AIDS dan vaksin nya. Karenanya, keberhasilan dalam mengurangi penyebarluasan virus HIV sangat tergantung pada perubahan perilaku dan penanganan factor lingkungan dan social ekonomi yang meningkatkan kerentanan orang akan infeksi. Diantaranya , menunda kegiatan seksual , penekanan khusus pada anak perempuan. Factor lainnya ; menolak tekanan teman agar minum/ menyuntikkan obat-obatan.
Walaupun pemanfaatan ICT dalam pendidikan HIV/AIDS dikarenakan keterbatasan infrastruktur, tenaga terlatih, dan sumber dana pendukung. Atas dasar itulah Bank Pembangunan Asia (ADB), SEAMEO (Southeast Asia Ministry of Education Organization), dan UNESCO mulai Maret 2003 menyelenggarakan program pendayagunaan ICT untk mencegah HIV/AIDS diperbatasan GMS .
PERAN PENDIDIKAN PENCEGAHAN
Semua Negara yang telibat dalam pencegahan HIV/AIDS dilingkungan sekolah, memiliki kebijakan Departemen Pendidikan serta perangkat hukum pun mendukung pelaksanaannya.
Di Kamboja kebijakan dan strategi pengintegrasian HIV/AIDS untuk remaja di lingkungan maupun luar sekolah dimasukkan dalam Renstra Pendidikan Departemen Pendidikan, Pemuda dan Olah raga yang mereka selenggarakan.
Di Vietnam keputusan Departemen Pendidikan dan Pelatihan menegaskan pentingnya pendidikan pencegahan HIV/AIDS.
Di Yunan peraturannya mensyaratkan semua sekolah melaksanakan pendidikan pencegahan HIV/AIDS.
Di Laos, sebuah tim pendidikan AIDS didalam Departemen Pendidikan telah dibentuk tahun 1996 dan bertanggung jawab atas pelaksanaan pendidikan pencegahan menyusul dibentuknya komisi nasional untuk pengontrolan AIDS .
Di Thailand kebijakan Departemen Pendidikannya menekankan hak setiap anak memahami dan menyadari bahaya HIV/AIDS.
PEMANFAATAN ICT
Sebelum adanya program ICT , semua Negara GMS belum didayagunakan secara maksimal. Diyakini bahwa ICT akan mampu menjawab dua tantangan pokok dalam pendidikan pencegahan : meningkatkan lingkungan dan metode belajar-mengajar serta memungkinkan dikembangkannya bahan-bahan ajar yang sesuai pada saat pelaksanaan program dengan dana yang terbatas.
Pemanfaatan ICT dapat meningkatkan proses belajar dan mengajar. Intervensi berbasis ICT yang tepat sasaran, kreatif, interaktif, integrative, dan kontekstual dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar.
Bahan-bahan ajar pendidikan berbasis ICT dapat disimpan disekolah agar siap pakai sesuai dengan kebutuhan dan memungkinkan keluwesan dalam pemakaian serta belajar sesuai kecepatan diri.
ICT telah merangsang belajar kawasan kognitif tingkat tinggi seperti pemecahan masalah melalui tugas-tugas kreatif yang melibatkan semua siswa baik didalam kegiatan maupun diluar sekolah.
PROGRAM SEAMEO-ADB
Sebagai bagian dari bantuan tekniis regional, untuk meningkatkan SDM dan kemiskinan di GMS, ADB memberi bantuan senilai $1,000,000 untuk menunjang pemanfaatan ICT HIV/AIDS di daerah perbatasan GMS dalam jangka waktu 18 bulan terhitung Maret 2003.
SEAMEO dan UNESCO masing-masing mendanakan $500,000. Kesepakatan SEAMEO dan ADB ditandatangani pada 7 Maret 2003 ,Manila.


TUJUAN
Bantuan teknis ADB memiliki tujuan pokok ;
 mengurangi terjadinya infeksi HIV/AIDS diantara kelompok usia rentan, kelompok miskin, penduduk pinggiran.
 memasyarakatkan pemanfaatan ICT serta teknologi multimedia lainnya dalam pendidikan pencegahan HIV/AIDS
Secara khusus program kerjasama ini dimaksudkan untuk :
 Mengembangkan bahan-bahan ajar pendidikan pencegahan HIV/AIDS dalam bahasa daerah setempat
 Meningkatkan kemampuan para guru, penyuluh kesehatan, pembuat program multimedia, dan pemangku peran dalam pendidikan pencegahan HIV/AIDS
 Memperluas pemanfaatan ICT dalam pendidikan pencegahan HIV/AIDS
 Menyampaikan program pencegahan yang berbasis ICT kepada masyarakat yang terisolir, terpinggirkan dan rentan
Komponen SEAMEO berfokus pada guru dan remaja di sekolah dan secara tak langsung menggarap masyarakat tempat sekolah yang dipilih berbeda. komponen ini dilaksanakan di 9 daerah perbatasan antara ke 5 negara yang berperanserta. Ada 36 SMP yang menjadi garapan program ini, masing-masing 2 sekolah di setiap wilayah perbatasan.





KOMPONEN PROGRAM & SASARAN
Ada 4 komponen program yaitu ;
 Pengembangan bahan ajar
Bahan-bahan ajar yang dikembangkan ini menjawab tuga permasalahan yang terkait satu sama lain yaitu perilaku rawan HIV/AIDS, perdagangan perempuan dan anak-anak serta penyalahangunaan obat-obatan di kalangan minoritas yang tinggal di perbatasan.
 Pengembangan kemampuan
Kelompok-kelompok remaja dan wanita masyarakat yang memberikan dukungan lanjutan setelah sasaran menerima program pencegahan di sekolah.
 Penyampaian program
Melalui kurikulum dan kegiatan pembelajaran di sekolah dengan guru sebagai agen perubahan dan penggerak masyarakat.
 Database
Target sasaran program ini adalah 8,000 remaja usia sekolah (13-24 th) di daerah perbatasan GMS, selain itu remaja luar sekolah dan kelompok resiko tinggi seperti ; supir truk, PSK.
ANALISIS SITUASI SEKOLAH DAN LAPANGAN
Masing-masing negara memberikan sajian situasi mutakhir HIV/AIDS dengan fokus ke daerah perbatasan serta kelompok sasaran (anak sekolah, etnis minoritas, masyarakat terpencil, dan susah dijangkau);
pendidikan pencegahan yang meliputi program secara umum, strategi pokoknya, cakupan, bahan yang digunakan dan tantangan yang dihadapi; kondisi infrastruktur ICT yang ada terutama di daerah perbatasan, kebijakan, dan rencana pengembangan ICT serta pemanfaatan ICT yang telah ada.
Pelatihan
Pelatihan di tingkat sekolah dan nasional selanjutnya dilaksanakan, dengan :
• Cara-cara penularan dan pencegahan infeksi HIV/AIDS
• Metode pembelajaran efektif dengan cara inovatif dalam berbasis ICT diajarkan
• Diarahkan untuk membuat bahan ajar dalam Proses Belajar
• Pelatihan Infrastruktur ICT juga ditingkatkan
Pelajaran apa yang dapat dipetik dari program ini?
 Program ini telah berhasil mempererat kerjasama antar sektor pendidikan dan kesehatan mulai dari tingkat kabupaten, propinsi hingga nasional. Koordinasi yang semula sulit diwujudkan dengan model yang diberikan program ini mulai kelihatan tumbuh di sebagian besar lokasi.
 Dukungan dan kerjasama berbagai pihak terkait sangat menentukan keberhasilan program ini. Peran serta dan komitmen orangtua dan pemuka masyrakat mulai dari saat persiapan program hingga pelaksanaan sangat mempermudah pencapaian tujuan program ini.
 Hubungan sekolah dan masyrakat yang erat memungkinkan apa yang dihasilkan dan digunakan di sekolah juga dimanfaatkan untuk pembelajaran teman sebaya di masyrakat.
 Program ini juga telah memberi model pengintegrasian pendidikan pencegahan HIV/AIDS berbasis ICT ke dalam kurikulum sekolah tanpa terlalu banyak menambah jam pelajaran.
 Pendidikan pencegahan HIV/AIDS sangat diperlukan oleh masyarakat miskin dan terpinggirkan terutama yang tinggal di daerah perbatasan.
LATAR BELAKANG
Kami mengankat masalah AIDS dalam Makalahini kami ingin mengetahui lebih jauh tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah AIDS tersebut. Seperti yang kita ketahui bersama, AIDS adalah suatu penyakit yang belum ada obatnya dan belum ada vaksin yang bisa mencegah serangan virus HIV, sehingga penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia baik sekarang maupun waktu yang datang.
Selain itu AIDS juga dapat menimbulkan penderitaan, baik dari segi fisik maupun dari segi mental. Mungkin kita sering mendapat informasi melalui media cetak, elektronik, ataupun seminar-seminar, tentang betapa menderitanya seseorang yang mengidap penyakit AIDS. Dari segi fisik, penderitaan itu mungkin, tidak terlihat secara langsung karena gejalanya baru dapat kita lihat setelah beberapa bulan. Tapi dari segi mental, orang yang mengetahui dirinya mengidap penyakit AIDS akan merasakan penderitaan batin yang berkepanjangan. Semua itu menunjukkan bahwa masalah AIDS adalah suatu masalah besar dari kehidupan kita semua.
Dengan pertimbangan-pertimbangan dan alasan itulah kami sebagai pelajar, sebagai bagian dari anggota masyarakat dan sebagai generasi penerus bangsa, merasa perlu memperhatikan hal tersebut. Oleh karena itu kami membahasnya dalam makalah ini.
TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan kami mengangkat masalah AIDS dalam Makalah ini adalah untuk mengkaji dan mengetahui apa sebenarnya AIDS itu, mengapa AIDS perlu mendapat perhatian khusus, serta bagaimana gejala-gejalanya. Selain itu kami Juga ingin mengetahui bagaimana penularan AIDS, siapa saja yang kemungkinan besar bisa tertular AIDS, bagaimana keadaan AIDS di Indonesia, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan AIDS.
MANFAAT PENELITIAN.
Adapun manfaat yang ingin kami capai adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca, utamanya bagi sesama pelajar dan generasi muda tentang AIDS, sehingga dengan demikian kita semua berusaha untuk menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa saja menyebabkan penyakit AIDS. Meskipun informasi yang kami berikan melalui Makalah ini hanya sebagian kecil dan mungkin masih mempunyai kekurangan, tetapi setidaknya isi dari Makalah ini dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk mengetahui tentangh AIDS itu sendiri.
RUMUSAN MASALAH.
Rumusan masalah adalah rumusan yang disusun untuk memahami apa dan bagaimana masalah yang diteliti. Sesuai dengan judul makalah ini, yaitu bahaya AIDS dan cara pencegahannya maka rumusan masalah adalah :
“ Apakah bahaya AIDS dan bagaimana cara pencegahannya ”.
HIPOTES
Hipotesa berasal dari kata Hype artinya kurang, dan tesis artinya pendapat atau penelitian. Jadi Hipotesa adalah suatu pendapat atau pernyataan yang masih bersifat sementara dan kebenarannya harus dibuktikan lebih lanjut melalui penelitian (Jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang sudah ditetapkan).
Adapun Hipotesa dari makalah ini adalah orang yang selalu melakukan hubungan seksual diluar nikah, lebih mudah terserang penyakit AIDS.
METODOLOGI PENELITIAN
Metode adalah suatu cara yang digunakan dalam mengerjakan sesuatu. Sedangkan Penelitian adalah seperangkat usaha yang terorganisasi untuk mengetahui, mengkaji, dan mengambil fungsi dari sesuatu yang menjadi objek penelitian, yang sistimatis, terarah, dan mempunyai tujuan. Jadi metode penelitian adalah suatu cara yang digunakan untuk menemukan, mengetahui, mengkaji, mengembangkan dan menguji kebenaran sesuatu hal yang menjadi objek penelitian .
Dalam melakukan sesuatu penelitian, ada beberapa metode yang dapat dilakukan yaitu observasi, wawancara, metode study perpustakaan, analisis media massa ataupun melalui pembagian angket. Adapun metode yang kami gunakan dalam menyusun makalah ini adalah :
Analisis Media Massa
Teknik analisa media massa termasuk metode pengumpulan data sekunder, yang dilakukan dengan menganalisis media massa yang memuat uraian dan data-data yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti.
Misalnya : Surat Kabar, majalah, dan sebagainya.
Metode Study Kepustakaan
Metode Study kepustakaan juga termasuk metode pengumpulan data sekunder dan hampir sama dengan teknik analisis media massa. Melalui metode ini kita dapat memperoleh data melalui buku-buku kepustakaan, karya-karya tulisan arsip-arsip, dan sebagainya.
Karena metode pengumpulan data yang kami gunakan adalah metode study perpustakaan dan analisa media massa, maka data-data yang terdapat dalam makalah ini termasuk jenis data SEKUNDER, yang diperoleh dari buku-buku, perpustakaan, majalah, surat kabar, dan semacamnya. Meskipun dalam makalah ini terdapat data yang berbentuk angka, tetapi data-data tersebut tidak termasuk data primer, karena angka tersebut kami peroleh dari buku-buku perpustakaan dan media massa yang kami jadikan sumber pengambilan data.
BAB II
BAHAYA AIDS DAN CARA PENCEGAHANNYA
HIV DAN AIDS
HIV (Human Immuno–Devesiensi) adalah virus yang hanya hidup dalam tubuh manusia, yang dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia.
AIDS (Acguired Immuno–Deviensi Syndromer) adalah kumpulan gejala menurunnya gejala kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit dari luar.
BAHAYA AIDS
Oarang yang telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan penular AIDS selama hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. AIDS juga dikatakan penyakit yang berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang bisa mencegah virus AIDS. Selain itu orang terinfeksi virus AIDS akan merasakan tekanan mental dan penderitaan batin karena sebagian besar orang di sekitarnya akan mengucilkan atau menjauhinya. Dan penderitaan itu akan bertambah lagi akibat tingginya biaya pengobatan. Bahaya AIDS yang lain adalah menurunnya sistim kekebalan tubuh. Sehingga serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.
GEJALA-GEJALA AIDS
Sejak pertama seseorang terinfeksi virus HIV, maka virus tersebut akan hidup dalam tubuhnya, tetapi orang tersebut tidak menunjukkan gejala penyakit namun terlihat betapa sehat, aktif, produktif seperti biasa. Karena gejala-gejala AIDS tampak setelah + 3 bulan. Adapun gejala-gejala AIDS itu sendiri adalah :
• Berat badan turun dengan drastis.
• Demam yang berkepanjangan(lebih dari 38 0C)
• Pembesaran kelenjar (dileher), diketiak, dan lipatan paha)yang timbul tanpa sebab.
• Mencret atau diare yang berkepanjangan.
• Timbulnya bercak-bercak merah kebiruan pada kulit (Kanker kulit atau KAPOSI SARKOM).
• Sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan.
• Sariawan yang tidak sembuh-sembuh.
Semua itu adalah gejala-gejala yang dapat kita lihat pada penderita AIDS, yang lama-kelamaan akan berakhir dengan kematian.
PENULARAN AIDS
Sebelumnya virus AIDS tidak mudah menular virus influensa. Kita tidak usak terlalu mengucilkan atau menjauhi penderita AIDS, karena AIDS tidak akan menular dengan cara – cara seperti di bawah ini :
• Hidup serumah dengan penderita AIDS ( asal tidak mengadakan hubungan seksual ).
• Bersenggolan atau berjabat tangan dengan penderita.
• Bersentuhan dengan pakaian dan lain-lain barang bekas penderita AIDS.
• Makan dan minum.
• Gigitan nyamuk dan serangga lain.
• Sama-sama berenang di kolam renang
Hal-hal diatas bukan penyebab menularnya AIDS dapat terjadi melalui cara-cara sbb :
• melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV
• Transfusi darah yang mengandung virus HIV
• Melalui alat suntik, akupuntur, tato, dan alat tindik yang sudah di pakai orang yang mengidap virus AIDS
• Hubungan pranatal, yaitu pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus AIDS kepada janin yang dikandungnya.
KELOMPOK YANG MEMPUNYAI RESIKO TINGGI TERTULAR AIDS
• Mereka yang sering melakukanhubungan seksual diluar nikah, seperti wanita dan pria tuna susila dan pelanggannya.
• Mereka yang mempunyai bayak pasangan seksual misalnya : Homo seks ( melakukan hubungan dengan sesama laki-laki ), Biseks ( melakukan hubungan seksual dengan sesama wanita ), Waria dan mucikari.
• Penerima transfusi darah
• Bayi yang dilahirkan dari Ibu yang mengidap virus AIDS.
• Pecandu narkotika suntikan.
• Pasangan dari pengidap AIDS
CARA PENCEGAHAN AIDS
• Hindarkan hubungan seksual diluar nikah. Usahakan hanya berhubungan dengan satu orang pasangan seksual, tidak berhubungan dengan orang lain.
• Pergunakan kondom bagi resiko tinggi apabila melakukan hubungan seksual.
• Ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata mengandung virus, hendaknya jangan hamil. Karena akan memindahkan virus AIDS pada janinnya.
• Kelompok resiko tinggi di anjurkan untuk menjadi donor darah.
• Penggunaan jarum suntik dan alat lainnya ( akupuntur, tato, tindik ) harus dijamin sterilisasinya.
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam usaha untuk mencegah penularan AIDS yaitu, misalnya : memberikan penyuluhan-penyuluhan atau informasi kepada seluruh masyarakat tentang segala sesuatau yang berkaitan dengan AIDS, yaitu melalui seminar-seminar terbuka, melalui penyebaran brosur atau poster-poster yang berhubungan dengan AIDS, ataupun melalui iklan diberbagai media massa baik media cetak maupun media elektronik.penyuluhan atau informasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, kepada semua lapisan masyarakat, agar seluarh masyarakat dapat mengetahui bahaya AIDS, sehingga berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan virus AIDS.
USAHA-USAHA YANG DILAKUKAN APABILA TERINFEKSI VIRUS AIDS
Usaha-usaha yang dilakukan terinfeksi virus AIDS disebut juga penerapan strategi pengobatan baru. Dalam pengobatan HIV / AIDS sangat penting mengetahui dinamika HIV, serta perjalanan penyakit ( patogenesis ) sehingga dapat melakukan tindakan dan pengobatan tepat waktu.
Beberapa harapan dan kabar baik dapat dicatat dari pertemuan-pertemuan “Van Couver” di Kanada saat ini cukup banyak obat anti HIV yang efektif untuk pengobatan kombinasi. Beberapa obat penghambat protease dan obat anti HIV sedang dalam tahap akhir untuk mendapat izin. Selain itu muncul pula pemeriksaan “Viral loard” yang prosesnya lebih mudah dalam mendeteksi RNA dari HIV dalam darah. Dan semua usaha diatas seharusnya di tunjang oleh motivasi dari penderita AIDS itu sendiri. Misalnya bagi mereka yang termasuk kelompok resiko tinggi terkena AIDS selalu memeriksakan darahnya secara teratur, paling sedikit 3-6 bulan sekali, demi keselamatan pasangan seksualnya. Dan yang tidak kalah penting adalah mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Yaitu dengan melaksanakan ibadah-ibadah yang diperintahkan dan berusaha untuk menjauhi segala yang dilarangNya, agar penderitaan yang dirasakan tidak terlalu berat. Dan bagi masyarakat hendaknya jangan menjauhi mengucilkan mereka yang terinfeksi AIDS, tetapi seharusnya memberi dorongan atau semangat hidup, misalnya melalui nasehat-nasehat yang bisamenumbuhkan rasa percaya diri, sehingga mereka yang telah mengidap virus AIDS tidak putus asa dalam menjalani hidupnya.
Dengan adanya usaha-usaha diatas, niscaya masalah AIDS dapat diatasi, paling tidak dapat dicegah sedini mungkin, apalagi jika ada partisipasi dari semua pihak.
MISTERI PENDEMI HIV/AIDS DIDUNIA
WHO ( World Healty Organisation)
WHO melaporkan bahwa sejak pertengahan 1995, jumlah komulatif penderita AIDS sebanyak 20 juta. 18,5 juta orang dewasa dengan separuhnya adalah kaum wanita, dan 1,5 juta adalah anak-anak. 50% dari penderita AIDS adalah kaum remaja /kaum muda dalam kelompok berusia 15-24 tahun.
Sejak 1 Januari 1996 WHA melaporkan jumlah penderita AIDS sebanyak 41 juta HIV/AIDS didunia. Dengan 35,4 juta remaja dan dewasa, 15,5 jutawanita, dan 5,6 juta anak-anak. Sedangkan untuk tahun 2000 ini WHO memperkirakan jumlah HIV akan mencapai 30-40 juta dan jumlah AIDS 12-18 juta.
PENDEMI HIV/AIDS REGONAL ASIA TENGGARA
Pendemi HIV/AIDS regonal asia tenggara pada tahun 1994 secara komulatif ditemukan 3745 AIDS, sedangkan sudah diperkirakan lebih dari 2 jura dari 11 negara termasuk Indonesia, dan jumlah tersebut akan menjadi 3,5 juta ditahun 1995.
SYNDROMA GUNUNG ES
Syndroma gunung es ini lebih menakutkan dunia, karena dengan ditemukannya HIV melalui pemeriksaan darah secara efidemilogi penyebaran HIV dimasyarakat akan menjadi lebih banyak 100-1000 kali. Sedangkan ditemukan satu AIDS berarti sudah ada 100-8000 orang yang tertular. Dari data yang ditemukan, HIV AIDS dapat terkena pada siapa saja, baik orang miskin, orang kaya, berpendidikan tinggi ataupun rendah, laki-laki maupun wanita dan sabagainya.
Saat ini infeksi AIDS pada wanita meningkat dengan cepat, karena wanita merupakan kelompok yang rendah dan mudah terinfeksi tanpa disadari. Sedangkan anak yang lahir dari ibu yang mengidap HIV, setelah usia 2 tahun sudah mulai menunjukkan HIV terbesar 30-40%.
SITUASI AIDS DI INDONESIA
Penyakit AIDS banyak ditemukan diluar negeri, tetapi karena hubungan dengan bangsa menjadi semakin erat, maka penularannya harus tetap diwaspadai. Banyak orang asing datang ke indonesia dan banyak pula orang indonesia pergi keluar negeri untuk berbagai keperluan. Hal itu membuka kemungkinan terjadinya penularan AIDS.
Jumlah HIV/AIDS di Indonesia sampai akhir 1996, terdapat 449 kasus dengan 341 HIV dan 108 AIDS, terdapat di 16 propensi di Indonesia. Wanita yang terkena sebanyak 122 orang, WNI sebanyak 304 orang, Heteroseksual 276 orang, homoseks dan biseks 84 orang, drag user 4 orang, perinatal 1 dan 80 tidak diketahui cara tranmisinya. Menurut golongan umur, diindonesia ternyata yang paling banyak terserang AIDS adalah usia 20-29 tahun yaitu 120 orang, bayi yang berumur kurang dario 1 tahun dan 50 orang belum diketahui umurnya.
Dari 108 AIDS yang terbesar di 10 propinsi dan yang meninggal 66 orang, DKI Jakarta terbanyak dengan 57 AIDS dan 35 sudah meninggal.
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
Tuhan YME. Mempunyai kekuasaan dalam mengatur segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, Dialah yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya. Begitupun dengan segala peristiwa yang terjadi dimuka bumi ini misalnya : kebahagiaan, kesedihan bencana alam, kelahiran, kematian, dan sebaginya. Muncullah virus HIV/AIDS merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia.
HIV adalah suatu virus yang hidup dalam tubuh manusia, dan dan dapat menyebabkan timbulnya AIDS, yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah terserang penyakit dan lam kelamaan akan meninggal, sudah menjadi sifat manusia yang selalu ingin merasakan kenikmanatan tanpa mempedulikan akibatnya, misalnya : melakukan perzinahan, penggunaan narkotika suntikan, dan sebagainya. Kits umat manusia sudah mengetahui bahwa perbuatan-perbuatan tersebut sangat dilarang,baik menurut ajaran agama masing-masing maupun aturan hukum yang berlaku. Tetapi dari sebagian kita tetap saja melakukan hal-hal tersebut, misalnya : WTS, Homoseks,Biseks, Mucikari, dan orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual diluar nikah. Dan berbahaya, dan sampai saat ini belum ditemukan obatnya.
Adapun gejala-gejala yang dapat kita lihatpada penderita AIDS yaitu demam yang berkepanjangan di sertai keringat malam, batuk dan sariwan yang terus menerus,berat badan turun dengan drastis, dsb, yang akan di akhiri dengan kematian.
Oleh karena itu, kita harus menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat menyebabkan AIDS, yaitu melalui pencegahan misalnya :tidak melakukan hubungan seksual secara bebas, menghidarkan penggunaan narkotika suntikan, dan sebagainya.
AIDS merupakan cobaan atau bahkan hukuman daru Tuhan,yang tidak pernah di duga oleh umat manusia.
Tapi bagaimanapun beratnya cobaan yang diberikan, Tuhan YME. Akan selalu membukakan jalan bagi umatnya. Misalnya : sekarang dicanada telah ada obat anti HIV yang efektif untuk pengobatan kombinasi. Masalah AIDS ini tidak tentu akan menyebar luas, apabila dilakukan pencegahan secara dini, apalagi jika ada partisipasi dari semua pihak.
SARAN
• Hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berusaha menghindarkan diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan AIDS.
• Jangan melakukan hubungan seksual diluar nikah (berzinah), dan jangan berganti-ganti pasangan seksual.
• Apabila berobat dengan menggunakan alat suntik, maka pastikan dulu apakah alat suntik itu steril atau tidak.
• Apabila melakukan tranfusi darah, terlebih dahulu perikasakan apakah tranfusi darah itu bebas dari virus HIV.
• Bagi para generasi muda, jauhilah obat-obatan terlarang terutama narkotika melalui alat suntik, alat-alat tato, anting tindik, dan semacamnya yang bisa saja menularkan AIDS, karena alat-alat aeperti itu tidak ada gunanya.dan hindarkan diri dari pergaulan bebas yang bersifat negatif.
• Apabila ada seminar-seminar, penyuluhan-penyuluhan, iklan ataupun brosur-brosur, yang mengimpormasikan tentang AIDS, sebaiknya kita memperhatikan denganbaik, agar segala sesuatu tentang AIDS dapat diketahui, sehingga kita bisa menghindarkan diri sejak dini dari AIDS.
• Orang yang mengetahui dirinya telah terinfeksi virus AIDS hendaknya menggunakan kondom apabila melakukan hubungan seksual, agar virus AIDS tidak menular pada pasangan seksualnya.
BAB IV DAFTAR PUSTAKA
“MISTERI PENDEMI HIV /AIDS” Oleh PAUL F. MATULESSY MD. MN.
BUKU PANDUAN BELAJAR SPK, KURIKULUM 1994 Penerbit. DEPDIKBUD/DEPKES, tahun 1997
Brosur AIDS, yang diedarkan oleh Exposa bekerjasama dengan DEPKES, tahun 1999
Pemerintah Indonesia telah menyusun beberapa kebijakan maupun program secara nasional untuk pencegahan HIV-AIDS. Dalam Rencana Aksi Nasional mengenai HIV-AID, ada beberapa kebijakan yang diatur di dalamnya.

Kebijakan-kebijakan yang ada dalam Rencana Aksi Nasional mengenai HIV-AIDS tersebut antara lain: meningkatkan kegiatan pencegahan dampak buruk untuk menjangkau 80% Penasun (pengguna narkoba suntuk), mempromosikan penggunaan 100% kondom di wilayah hotspot untuk menjangkau 80% pekerja seks komersil, menyediakan layanan pencegahan komprehensif untuk menjangkau 80% Penasun di penjara/rutan lapas, menyediakan layanan ARV kepada seluruh ODHA yang membutuhkan, menyediakan informasi pencegahan untuk seluruh golongan remaja dan dewasa muda.

Selain Rencana Aksi Nasional, kebijakan lain juga ada di Undang-Undang Penempatan dan Perlindungan TKI. Dalam undang-undang tersebut memuat pasal mengenai mengkondisikan buruh migrant – yang sebagian besar adalah perempuan dan pekerja domestik – sebagai pihak yang rentan terhadap penularan HIV. Hal tersebut terlihat dengan adanya kebijakan persyaratan wajib tes kesehatan (mandatory testing) yang diberlakukan bagi mereka, walaupun dalam pelaksanaannya kebijakan tersebut melanggar standar HAM.

Sementara itu dalam Undang-Undang Kesehatan juga banyak ditemukan intervensi nilai dan norma agama yang mengarah pada diskriminasi dan pelanggaran hak-hak perempuan untuk memperoleh informasi, akses, dan pelayanan kesehatan.

Hal serupa juga terjadi dalam Undang-Undang Perkawinan dan Undang-undang Pornografi. Kedua Undang-Undang tersebut memposisikan perempuan pada kerentanan, menghambat akses informasi dan kesehatan, serta menguatkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA perempuan.

Pada bulan Februari 2007, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional juga telah melaunching program kondom perempuan pada saat Pernas HIV-AIDS III di Surabaya. Sebanyak 26.500 kondom sudah didistribusikan di wilayah Jakarta dan Papua. Dilaporkan tersisa sekitar 500 kondom. Distribusi lebih banyak difokuskan pada pekerja seks komersil perempuan. Sementara pada kelompok ibu rumah tangga, program ini tidak terlalu familiar.

BKKBN juga telah mengembangkan PIK-KRR (Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja) untuk remaja SMA dan Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia (satu PIK-KRR per kecamatan) dan salah satu isu yang diangkat adalah pencegahan HIV-AIDS. Akan tetapi tidak ada program yang mengaitkan gender dan pencegahan HIV.

Departemen Kesehatan RI juga telah mengembangkan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) diseluruh Indonesia (satu PKPR per kecamatan) yang juga termasuk program pencegahan dan pengobatan HIV-AIDS.

Demikian juga dengan Departemen Pendidikan Nasional telah mengembangkan modul pembelajaran pencegahan HIV-AIDS bagi siswa SMP dan SMA. Akan tetapi beberapa isu seperti kekerasan berbasis gender, hak reproduksi dan seksual serta materi tentang seks yang aman tidak dimasukan dalam modul tersebut dan masih bersifat pilot project.

Melihat kenyataan di lapangan mengenai HIV-AIDS dan bagaimana kebijakan maupun program yang telah disusun oleh pemerintah, maka ada beberapa tantangan kedepan untuk mencegah penyebaran HIV-AIDS. Beberapa tantangan tersebut adalah:
- Bagaimana mengintergrasikan gerakan HIV-AIDS dengan gerakan perempuan (misalnya menyangkut isu kondom perempuan yang telah menjadi pro dan kontra);
- Bagaimana menggembangkan respon penanganan HIV-AIDS tidak difokuskan pada komoditas (teknologi biomedis) saja tetapi melihat praktek kebudayaan dan relasi gender sebagai akar dari kerentanan perempuan;
- Bagaimana meng-adress kerentanan ibu rumah tangga, buruh migrant, korban trafficking dan perempuan di lapas dalam respon HIV-AIDS secara spesifik;
- Bagaimana meningkatkan pemahaman perempuan terhadap HIV-AIDS dan memahami kerentanan mereka terhadap HIV;
- Bagaimana memastikan akses terhadap pelayanan yang berkualitas bagi semua perempuan yang membutuhkan dalam rangka perlindungan terhadap HIV-AIDS;
- Bagaimana menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perempuan untuk angkat bicara dan berpatisipasi dalam menentukan respon (kebijakan/program) yang tepat terhadap penanganan HIV-AIDS bagi diri mereka;
- Bagaimana memastikan tersedianya pendidikan seksualitas bagi remaja tersedia di sekolah dan diluar sekolah, termasuk pusat konseling dan pelayanan kesehatan yang ramah dimana isu kekerasan berbasis gender, hak seksual serta seks yang aman diakomodir di dalamnya;
- Bagaimana memastikan komitmen politik pemerintah pusat dan daerah (otonomi daerah) untuk penanganan HIV-AIDS dengan merespon kebutuhan perempuan dan berbasikan pemahaman yang tepat mengenai akar masalah.***(JK)

*Diambil dari presentasi Harry Kurniawan (PKBI) dalam Diskusi Tematik mengenai kesehatan reproduksi (pasal 12) CEDAW, yang diselenggarakan oleh CEDAW Working Group Initiative (CWGI), Wisma PKBI, 27 Mei 2010.





Peran Ulama dalam Penguatan Respon terhadap HIV/AIDS: Strategi, Keberhasilan dan Pembelajaran
Oleh redaksi pada Rab, 08/26/2009 - 14:57.
• Artikel
”HIV dan AIDS tidak hanya menyentuh tataran kesehatan namun juga masuk ke segala bidang termasuk masalah keyakinan atau agama . Banyaknya orang yang memiliki pemahaman yang minim serta pemahaman yang salah akan HIV/AIDS menyebabkan penyakit tersebut menjadi sumber stigma dan diskriminasi. Belum lagi adanya anggapan bahwa HIV/AIDS dianggap penyakit kutukan dan hukuman Tuhan serta dikaitkan dengan moral seseorang.
Melihat kenyataan di atas, maka kiranya peran pemuka agama menjadi sangat penting dengan memberikan pemahaman yang benar pada masyarakat sebagai bentuk upaya penguatan respon terhadap HIV. Tema Peran Ulama dan HIV/AIDS dalam Sesi satelit ICAAP hari kedua menjadi sangat menarik karena mempresentasikan pengalaman-pengalaman di lima negara di Asia.
Sesi ini dimaksudkan untuk menggali peran pemuka agama Islam dalam merespon penanggulangan HIV/AIDS di berbagai negara. Syafiq Mughni (Indonesia) membuka sesi ini dengan menyampaikan pengalamannya dalam memperluas penjangkauan terhadap beberapa organisasi agama di provinsi Jawa Timur dalam merespon masalah HIV/AIDS. Program yang ia lakukan berkolaborasi dengan Health Policy Initiative (HPI) USAID. Dalam penuturannya disampaikan bahwa pada dasarnya Islam diturunkan ke muka bumi sebagai rahmat bagi sekalian alam termasuk manusia. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan kualitas hidup seseorang, bagaimana manusia satu sama lain bisa menyayangi serta manusia bekerja untuk kebaikan (mashlahah).
Hasil THE 3rd IMLC tentang HIV & AIDS di Addis Ababa Juli 2007 menghasikan perlunya komitemen terhadap Islam serta rencana aksi di level mesjid dan madrasah. Syafiq menyoroti minimnya pengetahuan dan komitmen serta adanya stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. Melihat pentingnya masalah yang ada, organisasi Islam yang berbasis kemasyarakatan dapat berperan besar di komunitas dalam penanggulangan HIV/AIDS. Dia melihat organisasi seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyyah sangat berpotensi melakukan peran itu disebabkan memiliki pendukung yang banyak serta cakupan programnya hingga ke akar rumput. Selain itu kedua organisasi telah berkecimpung di bidang kesehatan dan pendidikan sejak lama.
Program yang dilakukan Syafiq yang juga Ketua Muhammadiyya Jawa Timur meliputi pendidikan HIV terhadap ulama setempat, ustadz dan tokoh agama lainnya, serta pada guru-guru di SMA, mengembangkan kurikulum dan manual yang mengintegrasikan dengan HIV/AIDS yang kemudian pengimplementasian kurikulum tersebut.
Pembicara kedua, menampilkan Mohammed Shahid berbicara mengenai Program pencegahan, dukungan serta perawatan HIV/AIDS di Myanmar. Mohammed yang menjabat sebagai Presiden sebuah organisasi Pemuda Keagamaan, melakukan program melalui strategi yang menyentuh sisi spiritual dan manusiawi. Programnya menekankan pada pendidikan kesehatan yang mengadopsi sisi spirititual serta aspek kesehatan. Dalam konteks AIDS, dilakukan pula adopsi bagaimana menghilangkan stigma dengan cara lebih ilmiah dan dipahami masyarakat. Dijelaskan pula bahwa penderita HIV (ODHA) bukanlah pendosa justru peran pemuka agama untuk dapat memberikan pencerahan bagi mereka untuk hidup lebih baik.
Selanjutnya Muhammad Iqbal Khalil, menyoroti mengenai pentingnya ”Peran Tokoh Agama dalam Mengurangi dan Diskriminasi terhadap penyakit HIV di Pakistan”. Menurutnya HIV/AIDS telah menyentuh tataran kemanusiaan.
Ada beberapa bentuk stigma dan diskriminasi terhadap penyakit ini, diantaranya: 1. HIV merupakan bentuk hukuman dari Tuhan, ODHA tidak boleh tinggal dengan masyarakat, 2. Odha tidak dibolehkan untuk pergi ke sekolah dan bekerja karena dikhawatirkan menularkan kepada yang lain, 3. Hanya orang-orang seperti pengguna narkoba suntik, pekerja seks, orang miskin jarum serta buruh saja yang dapat tertular HIV, 4. Perempuan seringkali disalahkan, 5. Petugas kesehatan membedakan dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Melihat besarnya peran pemuka dan tokoh agama dalam mempengaruhi masyarakat maka mereka perlu untuk dibekali dengan informasi tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) serta HIV/AIDS dengan benar.
Menurut pendapatnya, Islam datang untuk memberikan pencerahan dan kedamaian. Islam memandang bahwa penyakit yang diderita oleh seseorang justru bila diterima dengan ikhlas dapat menggugurkan dosa-dosanya. Islam pula melarang hubungan seks lelaki dengan lelaki (Gay) serta perzinahan.
Pemberian informasi HIV/AIDS dilakukan pada saat khutbah Jum’at. Selain dapat menjangkau jumlah peserta yang banyak dalam menggulirkan isu HIV. Selanjutnya jika sudah terbentuk isu, maka perlahan masyarakat yang tertarik akan segera merespon, berdiskusi selanjutnya mendukung program penghilangan stigma HIV. Lebih dari ratusan tema HIV/AIDS disampaikan melalui khutbah Jum’at.
Khalil yang juga sebagai Presiden dari Inter Religious Council for Health NWFP-Pakistan, menyebutkan melalui program yang organisasinya lakukan telah 3.000 pemuka agama Islam melalui lebih dari 40 training di 4 provinsi (32 kabupaten).
Untuk memudahkan dalam penyampaian informasi ke masyarakat, maka dikembangkan pula buku panduan HIV/AIDS atas dasar Qur’an dan Sunnah untuk para pemuka agama, Model Materi Khutbah Jum’at yang telah digunakan lebih dari ratusan khatib, pembuatan kalender dengan pesan-pesan HIV/AIDS, serta brosur dan leaflet yang didistribusikan setelah sholat Jum’at.
Sesi satelit ini ditutup dengan presentasi dari AMAN (the Asian Muslim Action Network) yang dibawakan oleh Mohammad Abdus Sabur. AMAN yang didirikan sejak 1990 memiliki 15 negara anggota. Sejak awal pendidiriannya, AMAN bertujuan untuk membanguna kesepahaman dan solidaritas antara umat Islam dan ummat agama lainnya serta mengembangkan program yang mampu memberadayakan masyarakat, meningkatkan Hak Asasi manusia (HAM), menciptkan keadilan dan kedamaian dengan metode pengajaran qur’an.
Keterlibatan AMAN dalam HIV/AIDS diawali tahun 2001 dimana sebagaian besar pemuka agama masih belum menyadari bahaya dari HIV/AIDS bahkan untuk mendiskusikannya. Melihat kondisi prihatin tersebut, AMAN melakukan beberapa kegiatan yang dimaksudkan untuk memberikan penyadaran di masyarakat melalui pendidikan, pembentukan kesepakatan serta pembuatan materi-materi HIV/AIDS dengan beberapa versi bahasa. AMAN bekerja sama dan berkonsultasi dengan para ulama, tenaga medis dan aktivis LSM di tingkat regional dan nasional.
Dalam berjejaring, AMAN juga membina hubunngan dengan organisasi muslim dan organasisi ODHA yang ada negara anggotanya. Tahun 2004 dan 2006, AMAN menjadi ”host” pre-ICAAP di Bangkok dan Colombo, serta Konferensi Dunia HIV/AIDS di Afrika Selatan 2007.
Dari materi-materi di atas, nampak bahwa pemuka agama di komunitas memegang peran yang sangat penting. Tidak ada dikotomi antara kesehatan dan agama. Bahkan justru sebaliknya, agama bisa mendorong masyarakat agar lebih berdaya dengan pemahaman yang benar. Pemahaman tersebut bukan saja dari sisi spiritual namun juga bagaimana mampu membangun hubungan yang baik antara manusia sehingga meminimalisir stigma dan diskriminasi bagi odha dan penyakitnya.

Sabtu, 04 Desember 2010

pApaRaZ!

Diposting oleh sylvanickeummah di 21.16 0 komentar

Sabtu, 27 November 2010

ternyata tanda-tandanya bisa diliat

Diposting oleh sylvanickeummah di 18.19 0 komentar
Diantara tanda-tanda lelaki yang jatuh cinta dengan hebat ialah:

1. Dia bersungguh-sungguh melakukan sesuatu untuk kekasihnya dengan rela bukan karena terpaksa.

2. Dia sentiasa ingin menghiburkan kekasihnya dan berubah menjadi orang yang pandai berbicara.

3. Dia banyak menasehati kekasihnya kerana dia amat menyayangi kekasihnya.

4. Dia berusaha mengekang kebebasan kekasihnya karena perasaan cemburunya yang meluap-luap.

5. Dia sentiasa takut kehilangan kekasihnya.

6. Dia sentiasa mengawasi gerak-gerik kekasihnya karena dia sentiasa merasa curiga.

7. Dia tidak suka ada lelaki lain dekat dengan kekasihnya.

8. Dia mudah merasa cemburu dan sensitif apabila kekasihnya tidak menumpahkan sepenuh perhatian kepadanya.

9. Adakalanya dia seperti seorang anak kecil yang meminta perhatian kerana dia mau kekasihnya melayaninya lebih dari orang lain.

10. Dia menjadi orang yang paling rajin dan sanggup membantu kekasihnya melakukan apa saja.

11. Dia pandai mengambil hati karena ingin dipuji oleh kekasihnya.

12. Dia akan bingung apabila kekasihnya berjauhan daripadanya terlalu lama.

13. Dia sentiasa memastikan keselamatan kekasihnya.

14. Dia mementingkan kekasihnya daripada dirinya sendiri.

15. Dia sering bertanya apakah kekasihnya mencintainya karena dia merasa cintanya lebih kuat daripada kekasihnya.

16. Dia tidak akan melayani perempuan lain yang tidak ada urusan penting dengannya.

17. Dia cuba meluangkan lebih banyak waktu dengan kekasihnya walaupun terpaksa menunggu kekasihnya dengan sabar.

18. Dia membanggakan kekasihnya di depan orang lain.

19. Kalau ditinggalkan oleh kekasihnya, ia akan merasa skeptis dan tidak percaya dengan cinta perempuan lain namun dia sentiasa mengharapkan kekasihnya kembali kepadanya.

20. Apabila muncul orang ketiga, dia akan hilang akal dan sanggup berbuat apa saja untuk merebut kembali kekasihnya.

21. Dia menganggap kekasihnya sebagai orang yang paling dipercayainya dan sanggup menyerahkan harta dan nyawanya sendiri.

22. Dia tidak akan berlaku curang kepada kekasihnya namun jika dia berbuat demikian itu berarti hatinya belum 100% mencintai kekasihnya.

23. Tidak semua lelaki sanggup meneteskan airmata hanya untuk seorang perempuan.


So..what do u think about it?
 

syivanickeummah Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei